Tabuh Pertama di Parahangan: Tiwah Mengetuk Langit, Menjaga Ingatan Leluhur Dayak

Antonius Sepriyono
0
PALANGKA RAYA, LIPUTANSBM - Di bawah langit Februari yang teduh, suara tabuh pertama menggema dari Desa Parahangan, Kecamatan Kahayan Tengah, Kabupaten Pulang Pisau, Sabtu (28/2/2026). 

Denting gong dan lantunan doa membuka sebuah perjalanan sakral: Tiwah, ritual pemakaman tingkat akhir masyarakat Dayak, khususnya penganut Kaharingan, yang tak sekadar mengantar arwah, tetapi juga merawat ingatan dan jati diri.


Baca Juga:

Bagi masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah, Tiwah bukanlah peristiwa duka semata. Ia adalah perayaan spiritual yang sarat makna, sebuah ikhtiar kolektif untuk mengantarkan salumpuk liau (arwah leluhur) menuju Lewu Tatau, alam keabadian. Di sanalah, arwah dipercaya kembali ke pangkuan Ranying, Sang Pencipta, dalam damai yang abadi.


Ritual ini dijalankan dengan khidmat dan penuh tahapan. Tulang-belulang jenazah yang telah lama dimakamkan digali kembali. Proses itu dilakukan dengan doa dan tata cara adat yang ketat. 


Setelah dibersihkan, tulang-tulang tersebut ditempatkan dalam Sandung atau rumah kecil berukir indah yang menjadi peristirahatan terakhir. Sandung bukan sekadar bangunan kayu; ia adalah simbol penghormatan, tanda kasih yang tak lekang oleh waktu.


Di Parahangan Tiwah tahun ini dilaksanakan secara gotong royong. Keluarga-keluarga yang terlibat berbagi beban biaya dan tenaga. Sejak pagi buta, warga bahu-membahu mendirikan balai, menyiapkan sesajen, memasak untuk tamu, hingga mengatur rangkaian prosesi yang bisa berlangsung berhari-hari. 


Tiwah memang dikenal sebagai ritual dengan biaya besar. Namun bagi masyarakat, nilai spiritual dan sosialnya jauh melampaui hitungan materi.


“Tiwah ini untuk melestarikan budaya Dayak Kalimantan Tengah,” ujar salah seorang warga yang mengikuti prosesi, dengan mata yang menyiratkan kebanggaan sekaligus harap. 


Ia percaya, di tengah arus modernisasi dan derasnya perubahan zaman, tradisi ini adalah jangkar yang meneguhkan identitas.


Secara sosial, Tiwah menjadi ruang pertemuan lintas keluarga, bahkan lintas kampung. Mereka yang merantau pulang, membawa cerita dan doa. 


Anak-anak menyaksikan, belajar memahami akar budaya mereka. Di sinilah, nilai gotong royong, solidaritas, dan penghormatan kepada leluhur ditanamkan secara nyata, bukan sekadar diceritakan.


Ritual ini lazim digelar setelah panen padi, ketika masyarakat memiliki waktu dan rezeki yang cukup untuk menyelenggarakan upacara besar. Waktu pelaksanaannya bisa berlangsung beberapa hari, bahkan puluhan hari, tergantung kesepakatan keluarga dan banyaknya arwah yang akan di-Tiwah-kan. 


Dalam tradisi tertentu, semakin besar dan meriah pelaksanaannya, semakin menunjukkan kedudukan sosial keluarga yang bersangkutan.


Tiwah juga menjadi identitas penting bagi sub-suku Dayak seperti Ngaju, Siang, Lawangan, dan Oot Danum. Masing-masing memiliki kekhasan dalam detail prosesi, namun esensinya tetap sama: penghormatan tertinggi kepada yang telah mendahului.


Kini, Tiwah kerap dipromosikan sebagai daya tarik wisata budaya. Namun bagi masyarakat Parahangan, inti dari ritual ini tetaplah spiritualitas. Wisatawan boleh datang dan menyaksikan, tetapi nilai sakralnya tidak boleh tergerus. Ada batas antara tontonan dan tuntunan.


Tabuh pertama yang dipukul pada Sabtu itu bukan sekadar penanda dimulainya rangkaian acara. Ia adalah panggilan bagi generasi muda untuk menoleh ke belakang, mengenali asal-usulnya, dan menjaga warisan leluhur agar tak tercerabut oleh zaman.


Di Parahangan, Tiwah kembali membuktikan dirinya sebagai lebih dari sekadar ritual kematian. Ia adalah pernyataan cinta kepada tradisi, doa panjang yang menembus langit, dan janji sunyi bahwa budaya Dayak di Kalimantan Tengah akan tetap hidup, dikenal, dipahami, dan dihormati hingga generasi-generasi mendatang.


Pewarta : Ahmad Sidik

Posting Komentar

0 Komentar
Posting Komentar (0)
block1/Nasional News
To Top
// Memaksa semua gambar di postingan menggunakan loading='lazy' document.querySelectorAll('.post-body img').forEach(img => { img.setAttribute('loading', 'lazy'); // Mengubah resolusi gambar Blogger ke format WebP otomatis let src = img.getAttribute('src'); if (src.includes('s1600') || src.includes('s640')) { img.setAttribute('src', src.replace(/\/s(1600|640)\//, '/s1200-rw/')); } }); let timeout = null; window.addEventListener('scroll', () => { clearTimeout(timeout); timeout = setTimeout(() => { // Jalankan tracker hanya setelah user berhenti scroll selama 200ms trackUserInterest(); }, 200); }, {passive: true});