-->
Theme Original LiputanSBM v4.6 – © 2026 PT Suara Borneo Membangun

19 Januari 2026

Benteng Karakter di SMA Negeri 2 Palangka Raya: Menangkal Kekerasan dari Bangku Sekolah



Kalteng, Liputansbm.com - Di tengah meningkatnya kekhawatiran publik terhadap paparan konten kekerasan dan sadistis pada anak dan remaja, SMA Negeri 2 Palangka Raya memilih jalur pencegahan sejak dini: membangun karakter siswa secara konsisten dan terarah. Sekolah ini menempatkan pendidikan karakter sebagai benteng utama dalam menangkal masuknya pemahaman kekerasan ke dalam diri peserta didik. Senin, 12/01/2026.

Hal tersebut disampaikan Muhammad Rifani, S.Pd, saat ditemui awak media Liputan SBM di kantornya, Rabu (14/1/2026). Rifani menegaskan bahwa penguatan karakter bukan sekadar program tambahan, melainkan menjadi napas utama dalam proses pendidikan di sekolah.

“Pembinaan karakter adalah kunci. Ketika nilai-nilai positif tertanam kuat, ruang bagi paham kekerasan dan perilaku sadistis menjadi semakin sempit,” ujar Rifani.

Sebagai landasan, SMA Negeri 2 Palangka Raya mengimplementasikan Program Pemerintah Indonesia Hebat, khususnya melalui penguatan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (KAIH). Tujuh kebiasaan tersebut Meliputi bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat, diterapkan sebagai pola pembiasaan harian yang membentuk disiplin, empati, serta keseimbangan emosional siswa.

Menurut Rifani, pembiasaan ini bukan sekadar rutinitas, tetapi strategi jangka panjang dalam menyiapkan generasi muda yang berkarakter kuat menuju Indonesia Emas 2045. “Kami ingin siswa tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga matang secara moral dan sosial,” katanya.

Selain pembinaan karakter, perhatian sekolah juga tertuju pada penggunaan gawai di lingkungan pendidikan. Rifani mengakui bahwa pembatasan gadget menjadi salah satu isu krusial yang tengah dirancang secara serius oleh pihak sekolah. Namun, kebijakan tersebut tidak dapat berjalan sendiri.

“Ini sudah menjadi perencanaan kami, tetapi membutuhkan masukan dan dukungan dari semua pihak, termasuk Dinas Pendidikan Provinsi,” jelasnya. Menurutnya, pengaturan penggunaan gadget harus dilakukan secara bijak agar tidak menghambat pembelajaran, namun tetap mampu melindungi siswa dari konten negatif.

Hingga saat ini, Rifani memastikan bahwa belum ditemukan kasus siswa SMA Negeri 2 Palangka Raya yang terpapar paham kekerasan dan sadistis. Kondisi ini, menurutnya, menjadi indikator awal bahwa pendekatan pembinaan karakter yang diterapkan berjalan ke arah yang tepat.

“Kami tentu tidak lengah. Pencegahan harus terus dilakukan, karena tantangan ke depan semakin kompleks,” tutup Rifani.

Di tengah derasnya arus informasi digital, langkah SMA Negeri 2 Palangka Raya menunjukkan bahwa sekolah masih memegang peran strategis sebagai ruang aman pembentukan karakter. Bukan dengan larangan semata, melainkan dengan pembiasaan nilai-nilai positif yang menyiapkan siswa menjadi manusia utuh, cerdas, berempati, dan beradab.

Pewarta: Andy ariyanto

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda
Memuatkan Berita Terkini...
© 2026 PT Suara Borneo Membangun – LiputanSBM. Tema website dilindungi UU Hak Cipta RI No.28 Tahun 2014. SHA-256: 6c814ae5013aef00cfbbab88b48b81ec936685a856f9b7472d928466e27ce533
ADVERTISEMENT LIPUTAN SBM