Palangka Raya, LiputanSBM - Di banyak tempat, menjadi pemimpin mungkin sekadar soal jabatan. Namun di Palangka Raya, kepemimpinan menemukan maknanya yang lebih dalam: tentang pilihan untuk bijak, untuk mendengar, dan untuk berpihak pada kepentingan bersama. Rabu, 25/02/2026.
Bagi sebagian orang, kepemimpinan adalah kekuasaan. Tetapi bagi Fairid Naparin, Wali Kota Palangka Raya dua periode, kepemimpinan adalah tanggung jawab moral. Sebuah pilihan sadar untuk menempatkan kemaslahatan warga di atas kepentingan pribadi atau golongan.
Baca Juga:
Dalam dinamika pembangunan daerah yang sumber daya alamnya tak sebesar kabupaten lain di Kalimantan Tengah, Palangka Raya dihadapkan pada tantangan klasik: bagaimana meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) tanpa mengorbankan keberlanjutan dan keadilan sosial.
Alih-alih bergantung pada eksploitasi sumber daya, Pemerintah Kota memilih jalur inovasi dan efisiensi tata kelola. Langkah-langkah strategis ditempuh untuk menggali potensi lokal, memperkuat pelayanan publik, serta membangun ekosistem ekonomi yang adaptif. Hasilnya, Palangka Raya mampu menjaga stabilitas fiskal sekaligus membuka ruang pertumbuhan baru.
Kebijakan yang diambil tidak lahir dari ruang tertutup. Ia tumbuh dari dialog, dari forum-forum diskusi, dari kesediaan untuk mendengar aspirasi masyarakat.
Salah satu wujud konkret dari komitmen pelayanan adalah hadirnya Layanan Call Center 112 Kota Palangka Raya. Layanan ini bukan sekadar nomor darurat, tetapi simbol respons cepat pemerintah terhadap kebutuhan warganya.
Pada akhir 2025, layanan tersebut meraih peringkat pertama terbaik se-Indonesia berdasarkan penilaian Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia. Sebuah capaian yang bukan hanya soal penghargaan, melainkan cermin dari sistem yang bekerja, koordinasi yang solid, dan kepemimpinan yang tegas dalam memastikan pelayanan publik berjalan optimal.
Ketegasan itu pula yang mengantarkan Palangka Raya kembali meraih Penghargaan Adipura, pengakuan atas komitmen menjaga kebersihan dan kualitas lingkungan kota. Di balik penghargaan itu, ada kerja panjang: edukasi masyarakat, penataan sistem persampahan, hingga penguatan kesadaran kolektif bahwa kota yang bersih adalah tanggung jawab bersama.
Di tengah tuntutan akuntabilitas publik yang semakin tinggi, Palangka Raya memilih berdiri di garis depan transparansi.
Berdasarkan ringkasan laporan program Integrated Sustainability Indonesia Movement (I-SIM) 2025, tingkat pengisian data indikator Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Kota Palangka Raya mencapai 100 persen. Dari 77 kota peserta di seluruh Indonesia, capaian ini menempatkan Palangka Raya sebagai salah satu kota paling transparan dan akuntabel.
Angka 100 persen bukan sekadar statistik. Ia adalah pesan bahwa pembangunan tidak boleh berjalan dalam kegelapan. Bahwa setiap program harus terukur, setiap capaian harus tercatat, dan setiap rupiah yang dibelanjakan harus dapat dipertanggungjawabkan.
Konsistensi dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan pembangunan berkelanjutan menjadi fondasi yang memperkuat kepercayaan publik terhadap pemerintah daerah.
Di tengah tantangan ketahanan pangan global, Pemerintah Kota Palangka Raya meluncurkan program inovatif bertajuk Sorgum Super Food Masa Depan (SOFOOD MAPAN). Program ini dirancang sebagai strategi diversifikasi pangan berbasis potensi lokal.
Sorgum, yang selama ini kurang populer dibandingkan komoditas lain, diangkat sebagai solusi masa depan: tahan terhadap perubahan iklim, bernilai gizi tinggi, dan berpotensi meningkatkan kesejahteraan petani lokal.
SOFOOD MAPAN bukan hanya program pertanian. Ia adalah pernyataan sikap, bahwa kemandirian pangan harus dibangun dari kekuatan sendiri. Bahwa inovasi tidak selalu berarti sesuatu yang baru dari luar, tetapi bisa lahir dari keberanian mengolah potensi yang telah lama ada.
Menjadi pemimpin memang bisa dilakukan siapa saja. Namun menjadi pemimpin yang bijak adalah pilihan, pilihan untuk mendahulukan kepentingan bersama, untuk mendengar dengan empati, untuk berintegritas, tegas, rendah hati, serta memberdayakan.
Dalam perjalanan dua periode kepemimpinannya, Fairid Naparin menunjukkan bahwa kebijaksanaan bukan sekadar retorika. Ia hadir dalam kebijakan yang menyentuh, dalam inovasi yang berdampak, dan dalam komitmen yang konsisten terhadap pembangunan berkelanjutan.
Di Kota Cantik Palangka Raya, kepemimpinan bukan hanya tentang hari ini. Ia tentang menyiapkan masa depan, dengan hati yang peka, pikiran yang terbuka, dan keberanian untuk memilih jalan yang benar. #Liputansbm
Penulis: Andy Ariyanto
