Kondisi tersebut menjadi perhatian Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palangka Raya. Namun, keterbatasan anggaran membuat program peremajaan pohon belum dapat dilaksanakan dalam waktu dekat.
Baca Juga:
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DLH Kota Palangka Raya, Untung Sutrisno, mengatakan pihaknya telah mengidentifikasi sejumlah pohon yang usia tanamnya sudah cukup tua dan membutuhkan penanganan khusus.
“Saat ini ada beberapa lokasi yang diwacanakan untuk dilakukan peremajaan pohon. Namun, pelaksanaannya belum bisa dilakukan karena anggaran masih disesuaikan. Mudah-mudahan tahun depan dapat direalisasikan,” ujarnya saat ditemui awak media, Sabtu (13/06).
Menunggu program peremajaan terealisasi, DLH memilih langkah mitigasi yang dinilai paling memungkinkan, yakni melakukan pemangkasan pada pohon-pohon yang berpotensi membahayakan pengguna jalan dan warga sekitar.
Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya mengurangi risiko ketika cuaca ekstrem melanda Kota Palangka Raya. Terlebih, dalam beberapa waktu terakhir intensitas hujan dan angin kencang cukup sering terjadi, sehingga meningkatkan kerawanan pohon tumbang maupun patahnya ranting-ranting besar.
“Untuk sementara pohon-pohon yang dinilai berisiko akan dipangkas agar tidak membahayakan masyarakat saat hujan dan angin kencang,” kata Untung.
Di sisi lain, pemerintah kota tetap berupaya menjaga keseimbangan ruang hijau perkotaan. Meski belum ada keputusan mengenai jenis pohon pengganti dalam program peremajaan, DLH telah menyiapkan rencana penghijauan untuk kawasan yang masih minim vegetasi.
Menurut Untung, penanaman baru akan difokuskan pada lokasi-lokasi yang saat ini belum memiliki pohon peneduh. Beberapa jenis tanaman yang dipertimbangkan antara lain pohon asam Jawa dan tabebuya.
Pemilihan kedua jenis pohon tersebut bukan tanpa alasan. Selain mampu memberikan keteduhan, pohon asam Jawa dikenal memiliki daya tahan yang baik terhadap kondisi lingkungan perkotaan. Sementara tabebuya, yang beberapa tahun terakhir menjadi favorit di berbagai kota di Indonesia, memiliki nilai estetika tinggi berkat bunga-bunganya yang bermekaran pada musim tertentu.
Bagi Palangka Raya, keberadaan pohon bukan sekadar elemen penghijauan. Pepohonan menjadi bagian dari wajah kota yang memberikan kenyamanan bagi warga, menurunkan suhu udara, sekaligus memperkuat identitas kota yang dikenal dengan ruang terbuka hijaunya.
Karena itu, peremajaan pohon bukan hanya soal mengganti tanaman yang menua, melainkan juga upaya menjaga keseimbangan antara keselamatan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan perkotaan. Sembari menunggu dukungan anggaran pada tahun mendatang, pemangkasan menjadi langkah sementara agar fungsi pohon sebagai peneduh tetap terjaga tanpa mengabaikan aspek keselamatan publik.
Dengan semakin tingginya kesadaran akan pentingnya ruang hijau yang aman dan berkelanjutan, harapan warga kini tertuju pada realisasi program peremajaan tersebut, agar Palangka Raya tetap teduh, indah, dan nyaman bagi generasi yang akan datang.
Pewarta; Andy Ariyanto

