Mitos Antara Gadis Mata Biru Dengan Benteng Portugis Jepara - Liputan Sbm

07 December 2021

Mitos Antara Gadis Mata Biru Dengan Benteng Portugis Jepara

 


Jepara - Berada di garis Pantai Utara Pulau Jawa, Kabupaten Jepara ternyata menyimpan ragam wisata alam dan mitos cerita. Salah satunya adalah Benteng Portugis, benteng yang dibangun pada tahun 1632 ini Akses jalan sudah baik. Kiri jalan sebelum benteng, terdapat hamparan pasir putih Pantai Goa Manik dan Pantai Mandalika. Selasa, 06/12/2021


Benteng Portugis berada di Desa Banyumanis Kecamatan Donorojo jaraknya sekitar 43 kilometer dari pusat Kota Jepara. Jika ditempuh dengan berkendara membutuhkan waktu sekitar satu jam


Benteng Portugis dibuat saat Sultan Agung masih memerintah kerajaan Mataram, benteng ini dibuat oleh bangsa Portugis yang saat itu sebagai pihak ketiga yang dimana juga bermusuhan dengan Belanda. 


Benteng Portugis dibangun di atas sebuah bukit di pinggir laut dan persis di depannya terhampar Pulau Mandalika. Sehingga praktis selat yang ada di depan benteng ini berada di bawah kontrol pengawasan Bangsa Portugis. Hal ini akan menjadi pengaruh pada pelayaran kapal dari Jepara ke Nusantara bagian timur atau sebaliknya pada saat itu.


Terdapat sebuah cerita di balik benteng Portugis tersebut yakni tentang gadis blasteran atau yang cukup dikenal dengan gadis bermata biru dari Jepara.


Kabid Kebudayaan pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jepara, Ida Lestari mengatakan tidak dipungkiri sosok gadis blasteran tersebut sering ditemui di sekitar Benteng Portugis.


"Karena di sana ada gereja juga sebagai fasilitas penunjang kehidupan orang Portugis waktu itu. Maka tidak dipungkiri ada sejarah banyak warga lokal yang memiliki kulit putih dan mata biru karena mereka menikah dengan warga setempat," kata Ida pada awak media, Jum'at (3/12/2021).


Menurutnya bangsa Portugis banyak yang bermukim di Jepara pada waktu itu. Terutama di sekitar Benteng Portugis. Hal inilah kemudian terjadi adanya pernikahan dengan orang Jepara.


"Karena pembangunan Benteng Portugis pada waktu itu adalah sebagai tempat pengintaian orang Portugis dalam hal ini perdagangan dan banyak orang Portugis yang bermukim di wilayah Tulakan dan sekitarnya," terang Ida.


Namun dengan seiringnya waktu gadis blasteran itu jarang ditemui di sekitar Benteng Portugis. Lantaran jarak waktu dan terjadinya pernikahan.


Puji Karyanto Manajer Benteng Portugis mengatakan terkait dengan sosok gadis blasteran di sekitar Benteng Portugis hanya sebuah mitos saja. Karena kata dia berdasarkan penelitian dari pencatatan sipil tidak ditemukan adanya warga setempat yang memiliki keturunan dengan bangsa Portugis.


"Jadi ditemukan mungkin atau menikah dengan pribumi di sini, sampai detik ini sudah dilakukan penelitian namun tidak menemukan hal tersebut. Jadi itu sebatas mitos atau orang-orang mengira harus ada keturunannya karena orang Portugis pernah di sini," kata Puji Karyanto. 


Bangsa Portugis di wilayah Banyumanis hanya sekitar 10 tahun saja. Menurutnya pembangunan Benteng Portugis juga berkat kerja sama dengan Kerajaan Mataram Islam pada tahun 1632.


"Bangsa Portugis di sini sangat singkat sekali, jadi membantu Benteng Portugis itu terbentuk kerjasama pada tahun 1632 itu, kerja sama dengan Mataram yang dipimpin oleh Sultan Agung dengan Bangsa Portugis untuk membantu di benteng," ungkap dia.


"Jadilah dibangun benteng ini pada tahun 1632 itu. Lha dia membantu di sini dalam kurun waktu 10 tahun, dia meninggalkan benteng yang ada di bukit itu pada 1642, jadi pas 10 tahun," tambah Puji Karyanto. 


Puji Karyanto menambahkan, Bangsa Portugis meninggalkan Jepara karena markasnya di Selat Maluku direbut oleh Belanda. "Kenapa meninggalkan benteng itu, karena markas mereka atau kantor yang ada di Selat Malaka atau di Maluku sana diserang dikuasai oleh Belanda. Kita rentetan ada nggak keturunan bangsa Portugis di sini. Kalau secara umum berdasarkan data kependudukan desa di sini atau desa tetangga itu tidak ditemukan," ujarnya.


Benteng Portugis berfungsi untuk mengawasi kapal Belanda yang melintas di laut sekitar Benteng Portugis. Begitu ada kapal Belanda yang melintas maka akan ditembaki oleh pasukan Portugis.


"Lokasi Benteng berfungsi ditempatkan di atas bukit, karena persenjataan dulu untuk menghalau kapal Belanda yang senjatanya meriam. Jadi dulu jarak tembak 3 sampai 4 kilo sehingga tepat sekali untuk menghalau kapal-kapal Belanda yang melintas di sini. Jadi fungsinya seperti itu," pungkas Puji Karyanto. 


Kini Benteng Portugis menjadi salah satu destinasi wisata di Kabupaten Jepara. Mereka datang untuk mengetahui jejak peninggalan sejarah sejak zaman Portugis hingga hanya sekedar menikmati keindahan pantai Benteng Portugis. #liputansbm


Pewarta : Puji S

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda