Jaga Eksistensi Budaya, DPW Tameng Adat Borneo Kalteng Hadiri Ritual Tiwah di Pulang Pisau

Rizal
0

Pulang Pisau LiputanSBM – Dalam upaya memperkuat pelestarian kebudayaan Dayak dan mempererat tali silaturahmi, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Tameng Adat Borneo Kalimantan Tengah, Sairullah, bersama Pembina Sanggar Kambang Barenteng Al Firdaus, Wahidah, melakukan kunjungan kehormatan ke Desa Tahawa, Kabupaten Pulang Pisau, pada Jumat sore (29/05/2026).


​Kehadiran rombongan besar ini disambut hangat dalam suasana kekeluargaan yang kental. Momen ini menjadi bentuk nyata dari implementasi dan pemaknaan mendalam terhadap Falsafah Huma Betang—simbol kebersamaan, toleransi, dan persatuan masyarakat Kalimantan.


Baca Juga:

Kedatangan rombongan DPW Tameng Adat Borneo dan Sanggar Kambang Barenteng Al Firdaus ini dinilai sangat tepat momentumnya. Mereka tiba bertepatan dengan salah satu prosesi penting dalam ritual, yaitu mendirikan Sapundu (Mapendeng Sapundu dalam bahasa Dayak Ngaju) sebanyak enam buah.


​Rombongan disambut langsung dengan penuh rasa hormat oleh para Basir (pemimpin ritual keagamaan) Hindu Kaharingan setempat.


​Dalam kesempatan tersebut, Sairullah menyampaikan pandangan bijaknya mengenai pentingnya menjaga warisan leluhur di tengah arus modernisasi.


​"Adat dan tradisi adalah identitas serta akar pemersatu kita di Tanah Kalimantan. Kehadiran Tameng Adat Borneo di sini adalah bentuk penghormatan tertinggi kami terhadap sakralitas Ritual Tiwah. Melalui momentum ini, mari kita terus merawat toleransi dan memperkokoh pondasi Falsafah Huma Betang, di mana perbedaan keyakinan justru menjadi kekuatan yang memperkaya kebersamaan kita," tutur Sairullah.

 

​Pemimpin ritual keagamaan Hindu Kaharingan, Basir Obing, mengapresiasi tinggi kehadiran Sairullah beserta rombongan. Ia memberikan penjelasan mendalam mengenai esensi dari rangkaian acara yang sedang berlangsung, sekaligus menegaskan bahwa Ritual Tiwah merupakan kewajiban sakral yang penuh dengan nilai spiritualitas tinggi.


​Berikut adalah poin penting terkait pelaksanaan ritual tersebut:

  • Status Ritual: Merupakan ritual suci kematian tingkat akhir bagi umat Hindu Kaharingan.
  • Tujuan Utama: Mengantarkan arwah (Liau) leluhur atau keluarga yang telah meninggal dunia menuju Lewu Tatau (alam kedamaian atau surga).
  • Simbolisme Sapundu: Enam buah tiang kayu berukir (Sapundu) yang didirikan berfungsi sebagai tempat sakral untuk mengikat hewan kurban.

Melalui kunjungan yang penuh khidmat ini, DPW Tameng Adat Borneo Kalimantan Tengah di bawah kepemimpinan Sairullah kembali menegaskan posisinya. Tidak hanya berperan sebagai pelindung adat secara fisik, tetapi juga sebagai pengayom spiritual yang senantiasa menjaga kedamaian, harmoni, serta toleransi antarumat beragama di Bumi Tambun Bungai.


Pewarta: Rizal 

Posting Komentar

0 Komentar
Posting Komentar (0)
block1/Nasional News
To Top