Di balik desain yang tampak sederhana, tersimpan filosofi mendalam tentang semangat kebersamaan, keterbukaan, dan kekuatan masyarakat dalam membangun kota yang terus berkembang di tengah keberagaman.
Baca Juga:
Salah satu elemen yang paling mencuri perhatian adalah figur
penari perempuan yang ditempatkan sebagai simbol penyambutan. Sosok ini
menggambarkan karakter masyarakat Palangka Raya yang terbuka terhadap ide,
gagasan, dan inovasi dari berbagai pihak. Seperti halnya tarian penyambutan
dalam budaya Dayak yang sarat makna penghormatan kepada tamu, penari perempuan
pada logo ini merepresentasikan sikap inklusif dan kesediaan untuk berjalan
bersama demi kemajuan daerah.
Di sisi lain, hadir penari laki-laki yang melambangkan
kekuatan, keberanian, semangat, dan energi masyarakat. Sosok tersebut menjadi
representasi tekad warga Palangka Raya yang selama ini menjadi motor penggerak
pembangunan. Dalam filosofi logo, kemajuan kota tidak hanya lahir dari gagasan,
tetapi juga dari keberanian untuk mewujudkannya menjadi tindakan nyata.
Sebagai pusat visual, Tugu Bundaran Besar ditempatkan
sebagai simbol yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Palangka Raya.
Tugu yang menjadi ikon kota itu dimaknai sebagai titik temu, ruang berkumpul,
dan pusat interaksi berbagai elemen masyarakat. Dari tempat itulah kolaborasi
dibangun, ide dipertemukan, dan kebersamaan dirawat.
Tugu Bundaran Besar tidak hanya berdiri sebagai penanda
geografis, tetapi juga menjadi metafora tentang pentingnya persatuan dalam
menghadapi berbagai tantangan pembangunan. Di tengah perbedaan latar belakang,
profesi, dan pandangan, masyarakat diajak untuk menemukan titik temu demi masa
depan kota yang lebih baik.
Nuansa kolaborasi dalam logo semakin kuat melalui kehadiran
garantung dan kacapi, dua alat musik tradisional yang memiliki makna
harmonisasi. Keduanya menjadi simbol bahwa keberagaman yang dimiliki masyarakat
Palangka Raya bukanlah sekat, melainkan kekuatan yang dapat menghasilkan irama
pembangunan yang selaras.
Layaknya sebuah pertunjukan musik yang indah, setiap unsur
masyarakat memiliki peran masing-masing. Ketika dimainkan bersama dalam
harmoni, perbedaan justru melahirkan kekuatan besar yang mampu mendorong
kemajuan daerah.
Menariknya, identitas visual logo tahun ini juga tampil
berbeda dari kebanyakan perayaan daerah yang identik dengan dominasi warna
merah, kuning, dan hijau. Pilihan tersebut bukan tanpa alasan.
Palet warna yang digunakan terinspirasi dari unsur-unsur
yang sangat dekat dengan kehidupan dan budaya masyarakat Kalimantan Tengah,
yakni warna kulit Pohon Nyamu (Upak Nyamu), Kayu Ulin (Tabalien), serta kain
ikat pinggang merah yang menjadi bagian dari kekayaan budaya Dayak.
Pilihan warna-warna hangat, alami, dan membumi tersebut
menghadirkan kesan yang lebih segar, modern, dan berkarakter. Di saat yang
sama, identitas budaya lokal tetap terjaga dan bahkan tampil lebih kuat melalui
pendekatan visual yang berbeda.
Keputusan untuk tidak menggunakan kombinasi warna yang umum
dipakai menjadi upaya menghadirkan identitas yang lebih khas. Sebuah pesan
bahwa modernitas tidak harus menghilangkan akar budaya, melainkan dapat
berjalan beriringan untuk menciptakan wajah baru yang lebih relevan dengan
perkembangan zaman.
Lebih dari sekadar logo peringatan, keseluruhan elemen
visual ini merupakan refleksi perjalanan panjang Palangka Raya yang telah
memasuki usia 69 tahun sebagai kota dan 61 tahun sebagai pemerintahan daerah.
Sebuah perjalanan yang dibangun melalui kerja bersama, gotong royong, serta
kolaborasi lintas generasi.
Tema “Palangka Raya Kota Kolaborasi” pada akhirnya tidak
hanya hadir sebagai slogan perayaan. Ia menjadi ajakan bagi seluruh masyarakat
untuk terus membuka ruang dialog, memperkuat sinergi, dan menjaga harmoni dalam
keberagaman.
Sebab sebagaimana filosofi yang tergambar dalam logo
tersebut, kemajuan sebuah kota tidak pernah lahir dari kerja satu pihak semata.
Kemajuan tumbuh ketika gagasan disambut dengan keterbukaan, keberanian
diwujudkan dalam tindakan, dan seluruh elemen masyarakat bergerak bersama dalam
satu irama kolaborasi.
Di usia yang semakin matang, Palangka Raya menegaskan
identitasnya sebagai kota yang bertumbuh melalui kebersamaansebuah kota yang
menjadikan kolaborasi sebagai fondasi menuju masa depan.
Pewarta: Andy Ariyanto
.jpg)
