![]() |
Latihan yang menjadi agenda rutin setiap dua tahun tersebut melibatkan berbagai instansi terkait untuk menguji kesiapan personel, efektivitas koordinasi, serta kecepatan penanganan apabila terjadi insiden kecelakaan pesawat di lingkungan bandar udara.
Baca Juga:
General Manager PT Angkasa Pura Indonesia Kantor Cabang Bandar Udara Tjilik Riwut Palangka Raya, I Made Dermawan, mengatakan pelaksanaan latihan merupakan kewajiban yang harus dipenuhi setiap bandar udara sebagai bagian dari penerapan standar keselamatan penerbangan.
Menurutnya, Bandara Tjilik Riwut yang termasuk kategori bandar udara kecil diwajibkan melaksanakan Airport Emergency Exercise sekali dalam dua tahun. Kegiatan ini bertujuan menguji kesiapan seluruh personel dan instansi yang tergabung dalam Airport Emergency Committee (AEC) dalam menghadapi situasi darurat.
"Latihan ini merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap bandar udara. Karena Bandara Tjilik Riwut masuk kategori bandara kecil, maka pelaksanaannya dilakukan satu kali dalam dua tahun," ujarnya.
Made menjelaskan, penanganan keadaan darurat penerbangan tidak dapat dilakukan hanya oleh pengelola bandara. Oleh karena itu, latihan melibatkan berbagai unsur eksternal, seperti Basarnas, TNI, Polri, rumah sakit, tenaga kesehatan, serta sejumlah instansi terkait lainnya.
Seluruh unsur tersebut memiliki peran sesuai tugas dan kewenangannya untuk mendukung proses penyelamatan korban apabila sewaktu-waktu terjadi kecelakaan pesawat di kawasan bandar udara.
"Ini merupakan salah satu tugas dan fungsi bandar udara untuk mengolaborasikan seluruh mitra dan stakeholder, baik dari sisi keamanan maupun kesehatan, agar bersama-sama dapat melakukan penanggulangan apabila terjadi kondisi darurat," katanya.
Dalam latihan tersebut, aspek yang diuji tidak hanya kemampuan teknis evakuasi, tetapi juga efektivitas komunikasi, koordinasi, dan komando (3C), yang menjadi faktor utama dalam keberhasilan penanganan keadaan darurat.
Melalui simulasi ini, setiap instansi diharapkan semakin memahami fungsi, tanggung jawab, serta prosedur yang harus dijalankan sehingga tidak terjadi tumpang tindih kewenangan ketika menghadapi kondisi sebenarnya.
"Kegiatan ini menguji komunikasi, koordinasi, dan komando agar masing-masing unit memahami fungsi dan tanggung jawabnya. Dalam kondisi darurat kami membutuhkan dukungan seluruh stakeholder sehingga proses evakuasi dan penyelamatan dapat berlangsung cepat dan tepat," jelasnya.
Pada simulasi tersebut, skenario menggambarkan sebuah pesawat Betang Air yang baru lepas landas dari Palangka Raya menuju Surabaya mengalami gangguan teknis. Pilot kemudian mengajukan permintaan return to base (RTB) atau kembali ke Bandara Tjilik Riwut untuk melakukan pendaratan prioritas.
Namun, saat proses pendaratan berlangsung, pesawat mengalami kerusakan pada roda pendaratan (landing gear) sehingga keluar dari landasan dan memicu kondisi darurat.
Merespons situasi tersebut, Bandara Tjilik Riwut segera mengaktifkan status siaga penuh dan mengoperasikan Emergency Operation Center (EOC) sebagai pusat komando penanganan keadaan darurat.
Selanjutnya, seluruh anggota Airport Emergency Committee bergerak sesuai prosedur yang telah ditetapkan. Petugas Aircraft Rescue and Fire Fighting (ARFF) menjadi unsur pertama yang melakukan penanganan di lokasi, disusul Basarnas, rumah sakit, tenaga medis, serta aparat keamanan sesuai kebutuhan di lapangan.
Made menjelaskan, pola penanganan tersebut diterapkan agar proses evakuasi berjalan efektif tanpa menimbulkan penumpukan personel maupun peralatan di lokasi kejadian.
"Sebagai komandan lapangan, On Scene Commander mengendalikan seluruh proses evakuasi. Bantuan dari luar masuk secara bertahap sesuai kebutuhan sehingga proses penyelamatan berlangsung lebih efektif dan efisien," ungkapnya.
Ia menambahkan, hasil evaluasi menunjukkan seluruh peserta mampu menjalankan tugas sesuai standar operasional prosedur (SOP), mulai dari kesiapan personel, penggunaan peralatan penyelamatan, hingga penanganan korban oleh tim medis.
Menurutnya, kesiapan seluruh unsur tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga standar keselamatan penerbangan di Bandara Tjilik Riwut.
"Alhamdulillah, komunikasi, koordinasi, dan komando selama latihan berjalan dengan sangat baik. Seluruh mitra memahami tugas pokok, personel yang dibutuhkan, serta peralatan yang harus disiapkan saat proses evakuasi. Tim kesehatan juga telah mengetahui perlengkapan medis yang harus tersedia sehingga penanganan dapat dilakukan secara cepat," katanya.
Melalui kegiatan ini, pihaknya berharap seluruh anggota Airport Emergency Committee semakin memahami tugas dan tanggung jawab masing-masing sehingga siap menjalankan penanganan apabila sewaktu-waktu terjadi keadaan darurat di bandar udara.
Made menegaskan bahwa kesiapsiagaan seluruh unsur merupakan faktor penting untuk memastikan proses penyelamatan korban dapat berlangsung cepat, tepat, dan terkoordinasi.
"Kami berharap seluruh mitra yang tergabung dalam Airport Emergency Committee benar-benar memahami fungsi dan SOP masing-masing sehingga ketika dibutuhkan dalam proses evakuasi semuanya sudah siap. Mudah-mudahan kondisi seperti ini tidak pernah benar-benar terjadi, namun kesiapsiagaan harus terus dipelihara demi menjaga keselamatan penerbangan," pungkasnya.
Pewarta : Antonius Sepriyono

