Palangka Raya, LiputanSBM — Aroma kayu yang hangus
masih menyelimuti Gang Sari 45, Jalan Murjani, Kelurahan Pahandut, Selasa
(14/7/2026). Di antara puing-puing rumah yang menghitam dan wajah-wajah lelah
para penyintas, secercah harapan datang bersama langkah Wali Kota Palangka Raya,
Fairid Naparin, dan Wakil Wali Kota, Achmad Zaini.
Keduanya mendatangi lokasi penampungan sementara untuk menemui warga yang kehilangan tempat tinggal akibat kebakaran hebat yang melanda kawasan tersebut pada Minggu (12/7/2026). Bukan sekadar menyerahkan bantuan, kehadiran mereka menjadi isyarat bahwa pemerintah tidak membiarkan warganya menghadapi musibah seorang diri.
Baca Juga:
Di hadapan para korban, Fairid Naparin menyampaikan rasa
duka dan keprihatinan yang mendalam atas bencana tersebut. Ia berharap para
penyintas diberikan kekuatan untuk bangkit dan kembali menata kehidupan setelah
kehilangan yang begitu besar.
"Musibah ini adalah cobaan yang tidak diinginkan siapa
pun. Pemerintah Kota Palangka Raya akan terus hadir dan berupaya membantu
masyarakat agar dapat segera bangkit," ujarnya.
Pada kesempatan itu, Wali Kota juga mengingatkan seluruh
masyarakat Palangka Raya agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi
kebakaran, terutama saat meninggalkan rumah maupun dalam penggunaan instalasi
listrik yang dapat memicu kebakaran apabila tidak digunakan dengan aman.
"Kami mengimbau masyarakat agar selalu memastikan
kondisi rumah dalam keadaan aman sebelum ditinggalkan. Periksa instalasi
listrik dan matikan peralatan yang tidak digunakan. Semoga kejadian seperti ini
tidak terulang kembali," pesannya.
Data Pemerintah Kota Palangka Raya mencatat, kebakaran
tersebut berdampak terhadap 46 kepala keluarga atau sekitar 96 jiwa yang
berasal dari tiga rukun tetangga (RT). Kini mereka harus menjalani hari-hari di
tempat penampungan sembari menunggu kepastian untuk kembali membangun kehidupan
yang baru.
Sebagai bentuk kepedulian, Pemerintah Kota Palangka Raya
melalui Dinas Sosial menyalurkan bantuan bagi para korban sesuai tingkat
kerusakan rumah. Warga yang rumahnya mengalami kerusakan berat akan menerima
bantuan sebesar Rp12 juta, kerusakan sedang Rp7,5 juta, dan kerusakan ringan
Rp5 juta. Selain bantuan uang, pemerintah juga menyalurkan kebutuhan pokok
berupa sembako untuk meringankan beban para penyintas selama masa pemulihan.
Di balik puing-puing yang masih berserakan, tersimpan
harapan agar kehidupan perlahan kembali pulih. Bagi para korban, bantuan memang
tidak mampu menggantikan seluruh kenangan yang hilang bersama rumah mereka.
Namun, kepedulian yang hadir dari pemerintah dan berbagai pihak menjadi
pengingat bahwa di tengah musibah, selalu ada tangan-tangan yang siap
menguatkan.
Sebab, setelah api padam, yang paling dibutuhkan bukan hanya
membangun kembali rumah-rumah yang roboh, tetapi juga menyalakan kembali
harapan di hati mereka yang kehilangan.
Pewarta: Andy Ariyanto

