![]() |
| FISIP Universitas Palangka Raya saat merayakan Dies Natalis ke-14 yang digelar di Halaman Halmahera FISIP UPR. |
PALANGKA RAYA, LIPUTANSBM - Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Palangka Raya (UPR) merayakan Dies Natalis ke-14 yang digelar di Halaman Halmahera FISIP UPR, Kamis (22/1/2026).
Momentum ini dimaknai sebagai ajang refleksi sekaligus penguatan komitmen fakultas dalam menghadapi tantangan zaman yang kian kompleks.
Dekan FISIP UPR periode 2023–2027, Bhayu Rhama, menegaskan bahwa memasuki usia ke-14, FISIP dituntut untuk semakin adaptif, berkomitmen dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta memperluas jejaring kerja sama.
“Dies Natalis ini menjadi momentum refleksi bersama,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Bhayu juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh sivitas akademika yang telah berkontribusi dalam perjalanan FISIP UPR hingga saat ini.
“Saya mengapresiasi dosen, tenaga pendidik, mahasiswa,” ungkapnya.
Usai kegiatan, Bhayu menjelaskan bahwa saat ini FISIP UPR memiliki tiga program studi yang telah menunjukkan capaian positif.
“Kita punya tiga prodi dan sebenarnya sudah unggul saat ini, makanya kita punya slogan 100 persen prodi unggul,” jelasnya.
Menurutnya, kunci utama pengembangan fakultas ke depan adalah kolaborasi dan koordinasi dengan berbagai pihak. Oleh karena itu, FISIP UPR terus berupaya melibatkan seluruh pemangku kepentingan dalam setiap program yang dijalankan.
Di sisi lain, Bhayu menyoroti persoalan pengangguran generasi muda yang masih menjadi tantangan serius nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Agustus 2025, jumlah pengangguran di Indonesia tercatat lebih dari 7 juta jiwa, dengan kelompok usia 15–24 tahun mendominasi sebesar 19,40 persen dari total pengangguran terbuka.
“Sebenarnya pemerintah pusat pun sudah memahami hal tersebut. Oleh karena dari itu, kita ada program strategis dari kementerian, itu adalah kampus berdampak, memberikan dampak,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa lulusan perguruan tinggi ke depan tidak hanya dituntut memiliki bekal akademik, tetapi juga kemampuan menghadirkan solusi nyata bagi berbagai persoalan di masyarakat.
Tantangan yang semakin beragam, lanjut Bhayu, menuntut perubahan pendekatan pembelajaran di perguruan tinggi.
“Bukan kepada bagaimana kita itu bisa memiliki teori-teori yang konsep-konsep yang jelas, tapi prinsipnya adalah bagaimana mahasiswa itu bisa memecahkan sebuah kasus masalah dengan segala teknologi yang ada,” bebernya.
Karena itu, FISIP UPR terus menyiapkan mahasiswa agar mampu berpikir kritis dan solutif dalam menghadapi dinamika sosial yang berkembang.
Sebagai fakultas yang disebutnya sebagai “rumah pemimpin masa depan”, Bhayu menegaskan pentingnya keteladanan dari para pengajar.
“Oleh karena dari itu, khusus untuk di Fisip karena menjadi rumah pemimpin masa depan, saya selalu tekankan kepada dosen-dosennya, kalau mau meminta mahasiswa atau meminta calon sumber daya yang unggul, maka pengajarnya harus unggul terlebih jauh,” tegasnya.
Ia pun mengajak seluruh dosen untuk membuktikan kualitas diri agar dapat menjadi teladan bagi mahasiswa. Selain penguatan kualitas SDM, FISIP UPR juga menargetkan pengembangan institusi melalui pembukaan program studi baru.
“Target ke depan, terus terang kita memang masih akan membuka prodi-prodi baru. Jadi ada, misalnya di tahun ini kita sudah berusaha, Insya Allah nanti di pertengahan tahun ini kita sudah memiliki program studi S2, dan kita akan lanjutkan lagi dengan program studi sarjana yaitu ilmu komunikasi, terus lagi ada program studi hubungan internasional juga yang akan kita wacanakan di tahun ini,” katanya.
Meski demikian, Bhayu menegaskan bahwa apapun bidang keilmuannya, orientasi utama pendidikan di FISIP UPR tetap pada kemampuan menyelesaikan persoalan.
“Namun demikian, kita tetap berusaha bahwa apapun jurusannya harus mampu memberikan solusi atas setiap masalah, kita harus mampu memecahkan setiap masalah, karena secara pribadi bagi saya sendiri tidak ada kata tidak bisa, tidak ada kata tidak mampu, yang ada adalah kita akan berusaha untuk semaksimal mungkin membedakan masalah,” pungkasnya.
Pewarta : Antonius Sepriyono

