Dulu Bebas Jalan, Kini Lebih Perhitungan: Cerita Pengguna Mobil Disel

Rizal
0
Foto: Ilustrasi menggunakan AI



Palangka Raya, LiputanSBM Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi sejak 18 April 2026 tak hanya berdampak pada angka-angka pengeluaran, tetapi juga mengubah kebiasaan sehari-hari masyarakat. Bagi sebagian pengguna kendaraan diesel, kondisi ini menjadi momen untuk lebih bijak mengatur mobilitas dan pengeluaran. Kamis, 23/04/2026.


Hal tersebut dirasakan oleh Erikson D Luper, pengguna Toyota Fortuner tipe GR Sport 4x4 tahun 2026. Dalam kesehariannya, kendaraan tersebut menjadi penunjang aktivitas rutin, mulai dari bekerja hingga mobilitas dalam kota.


Baca Juga:

Namun belakangan, ia mulai merasakan perubahan signifikan pada biaya bahan bakar. Jika sebelumnya pengisian sekitar Rp 500 ribu cukup untuk digunakan hingga satu minggu, kini durasinya terasa lebih singkat, terutama saat menggunakan BBM dari SPBU.


“Sekarang lebih terasa cepat habis. Jadi harus lebih pintar mengatur pemakaian,” ujarnya kepada LiputanSBM dengan nada santai pada Rabu, (22/04).

 

Untuk menyiasati meningkatnya biaya bahan bakar, Erikson menerapkan pola penggunaan yang berbeda sesuai kebutuhan. Ia menggunakan BBM jenis Pertadex baik untuk aktivitas dalam kota maupun perjalanan luar kota karena dinilai lebih stabil dalam mendukung performa mesin. Sementara itu, penggunaan Dexlite dipertimbangkan secara lebih selektif, terutama dengan mempertimbangkan efisiensi dan kondisi pemakaian kendaraan di lapangan.


Menurutnya, bukan hanya harga yang berubah, tetapi juga kebiasaan. Ia kini mulai mengurangi perjalanan yang tidak terlalu mendesak, terutama ke luar kota. “Kalau tidak penting sekali, biasanya ditunda dulu,” katanya.


Data yang dihimpun LiputanSBM menunjukkan bahwa harga Dexlite kini berada di kisaran Rp 24.150 per liter dan Pertadex sekitar Rp 24.450 per liter. Dengan harga tersebut, biaya pengisian penuh kendaraan diesel berkapasitas besar seperti Fortuner dapat mendekati Rp 2 juta.


Bagi Erikson, angka tersebut bukan sekadar hitungan, tetapi bagian dari pertimbangan sehari-hari. Ia bahkan menyebut, biaya pengisian saat ini terasa jauh berbeda dibanding sebelumnya. “Dulu sekitar Rp 900 ribu sudah cukup dengan kondisi tertentu, sekarang bisa sampai Rp 1,4 juta,” ungkapnya.


Meski demikian, ia tetap menjalani aktivitas seperti biasa. Hanya saja, kini lebih selektif dalam menggunakan kendaraan. Baginya, situasi ini bukan hanya soal kenaikan harga, tetapi juga tentang bagaimana beradaptasi.


Di tengah dinamika harga BBM, kisah seperti Erikson menjadi gambaran kecil bagaimana masyarakat menyesuaikan diri. Dari yang sebelumnya bebas berkendara, kini mulai menghitung setiap perjalanan bukan untuk mengurangi aktivitas, tetapi agar tetap seimbang dengan kondisi yang ada.


Pewarta: Rizal

Posting Komentar

0 Komentar
Posting Komentar (0)
block1/Nasional News
To Top