Gubernur Agustiar secara terbuka menceritakan bahwa isu ketenagakerjaan bukan sekadar tumpukan berkas di mejanya, melainkan bagian dari sejarah hidup yang pernah ia lalui. Ia mengaku sangat memahami getirnya menjadi pekerja lapangan karena pernah berada di posisi yang sama.
Baca Juga:
"Pekerja musiman dan serabutan itu tantangannya sangat besar, dan saya merasakannya sendiri. Dulu saya pernah jualan kue, bahkan jadi buruh angkut atau kuli panggul. Jadi, kalau bicara soal keringat buruh, saya tahu betul rasanya," ujar Agustiar disambut tepuk tangan para peserta yang hadir.
Sikap rendah hati Gubernur ini menuai pujian luas, baik dari
tokoh masyarakat maupun kalangan buruh sendiri. Mereka mengapresiasi keberanian
dan ketulusan Agustiar yang tidak memberi jarak dengan rakyatnya. Sejak pagi
buta, ia telah membuka pintu kediamannya untuk menerima kedatangan para buruh,
mendengar keluh kesah mereka secara langsung, hingga menjamu mereka layaknya
keluarga sendiri.
"Kami sangat terkesan. Jarang ada pemimpin yang mau 'berhadapan' langsung dan membuka diri dari pagi hingga menjamu kami di kediaman pribadinya. Ini menunjukkan beliau tidak takut mendengar kritik dan aspirasi langsung dari bawah," ungkap Bus Valintino yang juga merupakan ketua pelasanaan May Day.
Pengalaman hidup tersebut bertransformasi menjadi kebijakan
nyata. Dalam pertemuan tersebut, Agustiar memaparkan bahwa saat ini kepesertaan
BPJS di Kalimantan Tengah telah mencapai angka 51 persen. Meski
menunjukkan tren positif, ia menegaskan bahwa angka ini belum membuatnya puas.
Ia menginstruksikan seluruh jajaran di Pemerintah Provinsi
(Pemprov), Pemerintah Kabupaten/Kota, hingga dinas terkait untuk tidak
"tidur" dalam mengawasi hak-hak pekerja.
"BPS mencatat kepesertaan kita sudah 51 persen. Kami selaku pemerintah pasti memperhatikan ini secara serius. Kami sudah membuat sistem pelaporan yang ketat. Masalah pengawasan ini bukan hanya tugas kami di provinsi, tapi kerja bersama dengan Pemkab dan Pemkot," tegasnya di aula Rumah Jabatan Gubernur.
Mengingat luasnya wilayah Kalimantan Tengah, Agustiar
menyoroti tantangan perlindungan bagi buruh di sektor perkebunan dan pekerja
musiman yang sering kali terabaikan. Menurutnya, koordinasi lintas sektor
menjadi harga mati agar tidak ada pekerja yang luput dari perlindungan hukum
dan jaminan kesehatan.
Ia juga mengapresiasi semakin solidnya organisasi-organisasi
buruh di Kalteng. Bagi Agustiar, keberadaan organisasi ini mempermudah
pemerintah dalam menyerap aspirasi dan melakukan intervensi kebijakan yang
tepat sasaran.
"Melalui pertemuan seperti ini, kita mendengar langsung apa yang menjadi kegelisahan di bawah. Saya ingin memastikan bahwa tidak ada buruh di Kalteng yang merasa berjuang sendirian," pungkasnya.

