![]() |
| Ekonom Kalimantan Tengah, Rio Kriswana. |
PALANGKA RAYA, LIPUTANSBM – Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,50 persen menjadi salah satu kebijakan ekonomi yang cukup mengejutkan pelaku pasar. Di tengah ekspektasi banyak pihak bahwa suku bunga akan dipertahankan, langkah tersebut dinilai sebagai sinyal kewaspadaan terhadap berbagai tekanan ekonomi yang tengah berkembang, baik dari dalam maupun luar negeri.
Bagi masyarakat, kenaikan suku bunga acuan kerap dikaitkan dengan meningkatnya bunga kredit dan cicilan yang lebih mahal. Sementara itu, bagi pelaku pasar dan investor, kebijakan tersebut dipandang sebagai upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta mempertahankan kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional.
Baca Juga:
Menanggapi hal tersebut, Ekonom Kalimantan Tengah, Rio Kriswana, S.AP., M.M., CRGP., CRM., menilai keputusan Bank Indonesia perlu dicermati secara lebih mendalam karena berkaitan dengan dinamika ekonomi global yang saat ini berlangsung sangat cepat.
"Tentu hal ini menjadi perhatian kita bersama. Perlu kajian yang mendalam terhadap berbagai potensi perubahan ekonomi, baik di tingkat nasional maupun daerah," ujarnya, Selasa (9/6/2026).
Rio menjelaskan, perekonomian global saat ini masih dibayangi berbagai ketidakpastian. Konflik geopolitik di sejumlah kawasan, gangguan rantai pasok dunia, fluktuasi harga energi, hingga penguatan dolar Amerika Serikat menjadi faktor yang memberikan tekanan terhadap negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dalam situasi tersebut, investor global cenderung memindahkan dana mereka ke instrumen yang dianggap lebih aman. Akibatnya, arus modal keluar dari negara berkembang dapat meningkat dan berdampak pada nilai tukar mata uang, pasar keuangan, serta stabilitas ekonomi domestik.
"Tekanan tersebut kemudian berdampak pada nilai tukar, arus modal, hingga stabilitas pasar keuangan domestik," katanya.
Menurut Rio, kenaikan BI Rate merupakan salah satu instrumen yang digunakan Bank Indonesia untuk merespons kondisi tersebut. Secara umum, kebijakan itu bertujuan menjaga stabilitas rupiah, mengendalikan tekanan inflasi, mempertahankan kepercayaan investor, serta menjaga stabilitas pasar keuangan.
Ia menjelaskan, ketika suku bunga meningkat, instrumen investasi seperti deposito dan obligasi menjadi lebih menarik bagi investor. Kondisi ini dapat membantu menahan tekanan terhadap nilai tukar rupiah sekaligus mengendalikan inflasi yang berasal dari kenaikan harga barang impor.
"Dari sudut pandang stabilitas jangka pendek, langkah ini dapat dipahami," ujarnya.
Meski demikian, Rio mengingatkan bahwa kenaikan suku bunga bukanlah solusi tunggal terhadap berbagai tantangan ekonomi yang dihadapi Indonesia. Ia menilai kebijakan tersebut lebih tepat dipandang sebagai instrumen stabilisasi untuk meredam gejolak dalam jangka pendek.
Secara fundamental, lanjutnya, perekonomian Indonesia masih memiliki fondasi yang cukup kuat. Hal itu tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil, inflasi yang masih terkendali, kondisi perbankan yang sehat, cadangan devisa yang memadai, serta konsumsi rumah tangga yang tetap menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, Indonesia juga memiliki potensi besar melalui kekayaan sumber daya alam, bonus demografi, dan program hilirisasi yang terus berjalan.
Namun demikian, Rio menilai salah satu tantangan utama yang masih dihadapi adalah tingginya sensitivitas pasar terhadap pergerakan modal global dan sentimen investor internasional.
"Fundamental yang kuat tidak berarti kebal terhadap tekanan eksternal. Kondisi ekonomi domestik yang baik tetap dapat terpengaruh oleh dinamika global," jelasnya.
Ia juga menyoroti dampak kebijakan suku bunga terhadap pasar saham. Menurutnya, kenaikan BI Rate umumnya menjadi sentimen negatif bagi pasar dalam jangka pendek karena dapat meningkatkan biaya pinjaman perusahaan, memperlambat ekspansi usaha, serta mengurangi minat konsumsi masyarakat.
Di sisi lain, investor memiliki alternatif investasi yang lebih menarik melalui deposito maupun obligasi. Kondisi tersebut sering kali memberikan tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Meski begitu, Rio mengingatkan bahwa pergerakan IHSG tidak selalu mencerminkan kondisi ekonomi riil secara langsung.
"IHSG bergerak berdasarkan ekspektasi, sedangkan ekonomi riil bergerak berdasarkan produktivitas. Karena itu, penurunan pasar saham tidak selalu berarti ekonomi sedang memburuk," katanya.
Lebih lanjut, Rio menyoroti pentingnya kualitas investasi yang masuk ke Indonesia pasca kenaikan suku bunga. Ia menilai investasi produktif seperti pembangunan industri, proyek hilirisasi, pengembangan teknologi, dan pembangunan pabrik akan memberikan manfaat jangka panjang bagi perekonomian nasional.
Sebaliknya, apabila dana yang masuk didominasi modal portofolio jangka pendek atau hot money, stabilitas yang tercipta berpotensi hanya bersifat sementara.
"Hot money bisa masuk dengan cepat ketika bunga menarik, tetapi juga dapat keluar dengan cepat ketika ada peluang yang lebih menguntungkan di negara lain," ujarnya.
Selain faktor ekonomi yang bersifat teknis, Rio menekankan bahwa kepercayaan atau trust merupakan faktor penting yang sering kali tidak tercermin dalam data statistik. Menurutnya, investor tidak hanya mempertimbangkan angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga melihat kepastian arah kebijakan, konsistensi regulasi, kepastian hukum, serta efektivitas program pembangunan nasional.
"Mereka tidak hanya membeli angka, tetapi juga membeli keyakinan terhadap masa depan," tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Rio juga menyinggung fenomena yang dikenal sebagai Lipstick Economy atau Lipstick Effect. Fenomena ini menggambarkan kondisi ketika masyarakat mulai menahan pembelian besar seperti rumah atau kendaraan, namun tetap mengalokasikan pengeluaran untuk produk konsumsi yang memberikan kepuasan emosional, seperti kopi premium, produk perawatan diri, makanan kekinian, maupun hiburan digital.
Menurutnya, fenomena tersebut dapat menjadi sinyal awal perubahan perilaku konsumsi masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi.
Pada akhirnya, Rio menilai tantangan terbesar Indonesia bukan hanya menjaga stabilitas rupiah, inflasi, atau suku bunga. Tantangan yang lebih besar adalah membangun ekonomi yang semakin mandiri dan tidak terlalu bergantung pada sentimen global.
Hal itu, menurutnya, memerlukan peningkatan investasi produktif, penguatan industrialisasi, pengembangan inovasi dan teknologi, peningkatan produktivitas tenaga kerja, pendalaman pasar keuangan domestik, serta penguatan kepercayaan terhadap arah pembangunan nasional.
"Kenaikan BI Rate menjadi 5,50 persen dapat dipahami sebagai langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global. Namun kebijakan ini bukan solusi akhir, melainkan alat untuk membeli waktu agar fondasi ekonomi dapat diperkuat," katanya.
Rio menegaskan, stabilitas memang penting untuk menjaga ekonomi tetap berdiri pada hari ini. Namun dalam jangka panjang, kepercayaan, kepastian, dan fundamental ekonomi yang kuat akan menjadi faktor penentu kemampuan Indonesia untuk terus tumbuh dan bersaing di masa depan.
Pewarta : Antonius Sepriyono

