Ketua Panitia Tiwah, Yepriduga, mengungkapkan bahwa ritus pembersihan jiwa ini dimulai dengan prosesi Tabuh Pertama pada hari Kamis. Sebagai lambang keikhlasan dan penghormatan, satu ekor sapi dan dua ekor kerbau dipersembahkan.
Baca Juga:
Keesokan harinya, Jumat (17/7/2026), eskalasi spiritual berlanjut pada Tabuh Kedua dengan persembahan dua ekor babi dan empat ekor kerbau. Secara total, terdapat tujuh ekor hewan suci enam kerbau dan satu sapi yang dipersembahkan di sepanjang garis waktu upacara sesuai dengan petunjuk adat serta ajaran Hindu Kaharingan.
"Setiap hewan yang dikorbankan bukanlah sekadar tradisi fisik, melainkan simbol ketulusan dalam mengantarkan arwah leluhur menuju kedamaian," ujar Yepriduga.
Tiwah tidak hanya berbicara tentang mereka yang telah tiada, tetapi juga tentang harmoni bagi yang masih menjalani kehidupan. Menjelang puncak upacara, akan dilaksanakan beberapa ritus krusial:
Belian Balaku Untung: Sebuah prosesi sakral untuk memohon keselamatan, kesehatan, limpahan berkah, serta kesejahteraan bagi seluruh masyarakat yang ditinggalkan.
Bepapas: Ritual penyucian diri dan lingkungan dari segala energi negatif, agar kehidupan masyarakat senantiasa dinaungi perlindungan ilahi.
Sebagai penutup dari siklus ritual, panitia akan melangsungkan prosesi Pengkahem sebuah tahapan untuk membersihkan dan membongkar seluruh perlengkapan upacara. Setelah itu, Sapundu (tiang kayu pengikat hewan kurban yang diukir indah) akan dipindahkan ke lokasi Sandung (rumah kecil tempat penyimpanan tulang belulang), menandakan bentang panjang ritual telah genap dilaksanakan.
Puncak paling emosional dan sakral dari Tiwah adalah saat tulang-belulang leluhur disemayamkan di dalam Sandung. Dalam kosmologi Hindu Kaharingan, momen ini adalah lambang penyempurnaan mutlak bagi perjalanan roh (liau) menuju Lewu Tatau—alam keabadian yang penuh kedamaian.
Lebih dari sekadar ritus keagamaan, Yepriduga menegaskan bahwa Tiwah adalah pilar identitas masyarakat Dayak yang merekatkan kembali rajutan gotong royong, persaudaraan, dan kebersamaan antargenerasi.
Oleh karena itu, ia menitipkan harapan besar agar pemerintah daerah terus memberikan perhatian, pembinaan, dan dukungan fasilitas secara berkesinambungan. Sinergi antara masyarakat adat, umat Hindu Kaharingan, dan pemerintah adalah kunci utama agar warisan adi luhung ini tidak lekang oleh zaman.
"Tiwah adalah kebanggaan Kalimantan Tengah. Kita perlu menjaga api tradisi ini tetap menyala agar senantiasa dikenal oleh generasi muda maupun masyarakat luas, sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa Indonesia yang tak ternilai," pungkas Yepriduga.
Pewarta: Rizal

