PALANGKA RAYA, LIPUTANSBM — Upaya pencegahan radikalisme sejak usia dini menjadi perhatian serius Tim Densus 88 Antiteror Polda Kalimantan Tengah. Melalui forum diskusi santai bertajuk ngopi bareng insan pers, Densus 88 bersama jurnalis di Palangka Raya membahas pentingnya menangkal paham radikal dan kekerasan sadistis pada anak, Kamis (15/1/2026).
Kegiatan yang digelar di Sekretariat Serikat Pers Republik Indonesia (SPRI) Kalimantan Tengah ini diinisiasi oleh SPRI Kalteng dan dihadiri perwakilan organisasi kewartawanan serta insan pers dari berbagai media cetak dan daring di Palangka Raya.
Ketua SPRI Kalteng Muhamad Sidik, melalui Sekretaris SPRI Kalteng Rizaldi, menegaskan bahwa pertemuan tersebut bukan sekadar ajang silaturahmi, melainkan ruang strategis untuk membangun kesadaran kolektif menghadapi ancaman radikalisme di era digital.
“Hari ini kita berkumpul bukan hanya untuk seremoni, tetapi untuk membicarakan sebuah benteng. Di tengah derasnya arus informasi tanpa batas, paham-paham yang dapat memecah belah bangsa kerap masuk tanpa disadari menyelinap melalui media sosial, ruang diskusi, bahkan lingkungan terdekat kita,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tema Menangkal Radikalisme Sedini Mungkin dengan materi deteksi dini dan strategi pencegahan di era digital merupakan panggilan mendesak bagi semua pihak, khususnya insan pers.
“Radikalisme bukan hanya soal tindakan, tetapi pola pikir. Karena itu, pencegahan sejak dini adalah langkah paling krusial. Tujuan kegiatan ini untuk mempertajam kepekaan kita dalam mendeteksi ancaman serta memperkuat literasi, agar pers tidak hanya menjadi penonton, melainkan garda terdepan dalam menjaga keutuhan NKRI, khususnya di Bumi Tambun Bungai,” katanya.
Sementara itu, Ketua Tim Satuan Tugas Wilayah (Satgaswil) Densus 88 Antiteror Polda Kalteng, Ganjar Satriyono, menyambut positif terselenggaranya diskusi tersebut. Menurutnya, peran media sangat penting dalam upaya pencegahan radikalisme di masyarakat.
“Kami siap membantu mensosialisasikan langkah-langkah pencegahan terhadap paham radikalisme dan tindakan yang tidak selaras dengan nilai-nilai Empat Pilar Kebangsaan,” ujar Ganjar.
Ia juga berharap sinergi antara aparat penegak hukum dan insan pers di Kalimantan Tengah terus terjalin secara berkelanjutan.
“Kita tidak bisa bergerak sendiri. Karena itu, kami membutuhkan peran rekan-rekan media untuk menyosialisasikan bahaya radikalisme. NKRI adalah harga mati,” tegasnya.
Pewarta : Antonius Sepriyono



