KALTENG, LIPUTANSBM.COM – Proyek pembangunan
gedung baru Puskesmas Kuala Jelai, Kabupaten Sukamara, Kalimantan Tengah,
tengah menjadi sorotan publik menyusul beredarnya sebuah video di media sosial
TikTok yang kemudian turut diangkat oleh sejumlah media daring daerah. Video
tersebut memuat dugaan keterlibatan pejabat daerah dalam proyek bernilai
miliaran rupiah, yang memicu berbagai spekulasi di tengah masyarakat.
Menanggapi hal tersebut, Rendy Lesmana, salah satu pihak
yang namanya disebut dalam pemberitaan, dengan tegas membantah tuduhan yang
beredar. Ia menyatakan bahwa informasi tersebut tidak hanya keliru, tetapi juga
berpotensi mencemarkan nama baiknya.
Dalam keterangan tertulis yang disampaikan melalui pesan
WhatsApp kepada awak media Liputan SBM, Rendy mengaku kecewa terhadap
pemberitaan yang menurutnya tidak mengedepankan prinsip dasar jurnalistik,
khususnya asas konfirmasi dan keberimbangan.
“Ini jelas pencemaran nama baik. Sampai berita itu
ditayangkan, tidak ada upaya konfirmasi kepada saya. Tuduhan yang disampaikan
adalah fitnah yang tidak berdasar,” tegas Rendy, Senin (12/01/2026).
Ia menilai, apabila media ingin mengangkat dugaan persoalan
dalam proyek tersebut, seharusnya klarifikasi dilakukan terlebih dahulu kepada
pihak yang berwenang, bukan dengan membangun narasi sepihak yang berpotensi
menggiring opini publik.
“Kalau ingin tahu duduk persoalannya, silakan konfirmasi
langsung ke Kejaksaan Negeri Sukamara. Bahkan, persoalan ini sebelumnya pernah
dilaporkan oleh bupati terpilih,” ujarnya.
Lebih lanjut, Rendy menyebut bahwa tudingan yang diarahkan
kepadanya telah melampaui batas kritik dan mengarah pada upaya sistematis untuk
merusak reputasi pribadi atau character assassination. Ia juga menegaskan bahwa
program pembangunan Puskesmas Kuala Jelai telah direncanakan jauh sebelum
dirinya menjabat sebagai Penjabat Bupati Sukamara.
“Sejak saya menjabat sebagai Pj Bupati, saya merasakan
adanya ketakutan dari sebagian pejabat atau elit politik. Berita seperti ini
saya nilai sebagai pembunuhan karakter,” katanya.
Rendy juga mencurigai bahwa isu Puskesmas Kuala Jelai
sengaja dimunculkan sebagai bentuk pengalihan perhatian publik. Menurutnya,
saat ini justru terdapat sejumlah proyek lain di Kabupaten Sukamara yang sedang
menjadi sorotan media karena diduga bermasalah.
“Saya melihat ini bisa saja pengalihan isu. Saat ini ada
banyak proyek di Sukamara yang sedang diberitakan bermasalah,” ungkapnya.
Ia pun mempertanyakan rasionalitas tudingan yang beredar,
khususnya terkait nilai proyek dan dugaan aliran dana yang dinilainya tidak
masuk akal.
“Masa proyek senilai Rp8 miliar disebut-sebut ada fee sampai
Rp5 miliar? Secara logika, itu tidak rasional,” ucapnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum terdapat keterangan
resmi dari Kejaksaan Negeri Sukamara maupun instansi teknis terkait untuk
menanggapi dugaan yang beredar di media sosial. Kasus ini kembali menegaskan
pentingnya kehati-hatian dalam menyampaikan informasi di ruang publik, terutama
di era digital, agar fungsi kontrol sosial tetap berjalan tanpa mengabaikan
asas praduga tak bersalah dan etika jurnalistik.



