![]() |
| Oleh: Bdn. Fitrya Ayu Anggraini, S.ST. M.Keb Tenaga Pendidik di Jurusan Kebidanan Poltekes Kemenkes Palangkaraya |
LIPUTANSBM.COM, PALANGKA RAYA - Dalam praktik pendidikan dan pelayanan kebidanan, kesehatan
perempuan masih kerap dipahami secara dominan dari aspek fisik dan reproduksi,
sementara kesehatan otak belum mendapat perhatian yang setara. Padahal,
berbagai studi neurosains dan kebidanan menunjukkan bahwa otak merupakan pusat
kendali utama yang memengaruhi fungsi hormonal, emosi, perilaku, hingga
kemampuan perempuan dalam menjalani peran biologis dan sosialnya. Padahal, otak
merupakan pusat kendali utama yang memengaruhi fungsi hormonal, emosi,
perilaku, serta kemampuan adaptasi perempuan sepanjang siklus kehidupannya.
Oleh karena itu, konsep kesehatan otak menjadi fondasi penting dalam
upaya meningkatkan kualitas hidup perempuan dan generasi yang akan
dilahirkannya.
Perempuan menjalani siklus kehidupan yang unik dan kompleks, mulai
dari masa kanak-kanak, remaja, dewasa, kehamilan, persalinan, nifas, menopause,
hingga usia lanjut. Literatur ilmiah menunjukkan bahwa setiap fase tersebut
melibatkan perubahan struktur dan fungsi otak yang signifikan, terutama akibat
fluktuasi hormon reproduksi seperti estrogen dan progesteron yang berperan
penting dalam regulasi emosi dan fungsi kognitif (Rubinow & Schmidt, 2019).
Setiap fase tersebut ditandai dengan perubahan biologis dan psikososial yang
berdampak langsung pada fungsi dan kesehatan otak. Dari sudut pandang
kebidanan, pemahaman terhadap dinamika kesehatan otak ini menjadi kunci dalam
memberikan asuhan yang komprehensif dan berkelanjutan.
Pada masa kanak-kanak dan remaja, otak perempuan berada dalam fase
perkembangan yang sangat pesat. Penelitian neuroimaging menunjukkan bahwa
pembentukan koneksi saraf dan pematangan korteks prefrontal yang berperan dalam
pengambilan keputusan dan pengendalian emosi berlangsung hingga usia dewasa
awal (Gur et al., 2012). Stres berkepanjangan pada fase ini terbukti
meningkatkan risiko gangguan kecemasan, depresi, dan gangguan tidur pada remaja
putri, yang dapat berdampak jangka panjang terhadap kesehatan reproduksi dan
mental. Pembentukan koneksi saraf, kemampuan regulasi emosi, serta fungsi
kognitif sangat dipengaruhi oleh nutrisi, kualitas pengasuhan, rasa aman, dan
lingkungan sosial. Remaja putri yang mengalami stres berkepanjangan, tekanan
akademik, atau kurang dukungan emosional berisiko mengalami gangguan kecemasan,
depresi, dan gangguan tidur. Dalam perspektif kebidanan, kondisi ini perlu
dipahami sebagai bagian dari kesehatan otak yang akan memengaruhi kesiapan
remaja putri memasuki fase dewasa dan reproduksi.
Memasuki usia dewasa, perempuan dihadapkan pada berbagai peran dan
tuntutan kehidupan. Beban mental (mental load) yang tinggi dan stres
kronis diketahui mengaktivasi sumbu hipotalamus–pituitari–adrenal (HPA axis)
secara berlebihan. McEwen dan Akil (2020) menegaskan bahwa aktivasi stres
jangka panjang dapat mengganggu keseimbangan neuroendokrin, menurunkan konsentrasi,
serta memicu keluhan psikosomatik yang sering dijumpai dalam praktik kebidanan
sehari-hari.
Dalam pengalaman mengajar dan mendampingi mahasiswa kebidanan,
termasuk dalam konteks masyarakat Kalimantan Tengah, saya kerap menjumpai
perempuan usia produktif yang datang dengan keluhan fisik berulang seperti
sulit tidur, nyeri kepala, atau kelelahan berkepanjangan tanpa temuan klinis
yang jelas. Setelah ditelusuri lebih lanjut, keluhan tersebut sering berkaitan
dengan stres psikologis, beban peran, dan kurangnya ruang pemulihan emosional.
Kondisi ini mencerminkan bagaimana kesehatan otak perempuan masih kerap
terabaikan dan baru mendapat perhatian ketika muncul keluhan fisik yang
mengganggu aktivitas sehari-hari. Beban mental (mental load) yang
tinggi, tuntutan pekerjaan, serta tanggung jawab keluarga sering kali membuat
kesehatan otak terabaikan. Stres kronis pada fase ini dapat mengganggu
keseimbangan hormon melalui aktivasi sumbu hipotalamus pituitari adrenal (HPA
axis), menurunkan konsentrasi, serta memicu keluhan psikosomatik. Dalam proses
pembelajaran kebidanan, hal ini menjadi pengingat bahwa keluhan fisik perempuan
sering kali memiliki akar pada kondisi kesehatan otak dan psikologis.
Kehamilan dan masa nifas merupakan fase yang sangat krusial bagi
kesehatan otak perempuan. Perubahan hormon yang drastis, terutama estrogen dan
kortisol, berdampak langsung pada fungsi memori dan emosi. Studi menunjukkan
bahwa sekitar 10–20% perempuan mengalami depresi postpartum, kondisi yang
berkaitan erat dengan perubahan neurobiologis dan stres psikososial (Brummelte
& Galea, 2016; Schiller et al., 2015).
Dalam konteks pelayanan kesehatan di Kalimantan Tengah, ibu hamil
dan nifas sering menghadapi tantangan berupa keterbatasan dukungan psikososial
dan jarak akses layanan kesehatan. Pada kondisi ini, bidan kerap menjadi tenaga
kesehatan terdepan yang paling dekat dengan kehidupan perempuan. Posisi
strategis ini memungkinkan bidan untuk tidak hanya memantau kondisi fisik ibu,
tetapi juga mengenali tanda-tanda awal gangguan kesehatan otak, seperti
kecemasan berlebihan, gangguan tidur, dan kelelahan emosional, sehingga
intervensi dapat dilakukan lebih dini. Perubahan hormonal yang signifikan,
kurang tidur, serta adaptasi peran sebagai ibu dapat memengaruhi fungsi
kognitif dan emosional. Fenomena seperti pregnancy brain atau mommy
brain sering dianggap wajar, namun tetap memerlukan perhatian. Tanpa
dukungan yang memadai, kondisi ini dapat berkembang menjadi kecemasan kehamilan
atau depresi postpartum. Kesehatan otak ibu pada fase ini sangat menentukan
keberhasilan menyusui, pembentukan ikatan ibu–anak, serta tumbuh kembang bayi.
Pada masa menopause dan usia lanjut, penurunan hormon estrogen
berdampak nyata pada fungsi memori, suasana hati, dan kecepatan berpikir. Bukti
ilmiah menunjukkan bahwa estrogen memiliki efek protektif terhadap neuron,
sehingga penurunannya berkontribusi pada meningkatnya risiko gangguan kognitif
dan penurunan kualitas hidup perempuan lanjut usia (Rubinow & Schmidt,
2019). Risiko gangguan kognitif dan penurunan kualitas hidup meningkat apabila
kesehatan otak tidak dijaga sejak dini. Dari sudut pandang kebidanan komunitas,
pendampingan perempuan pada fase ini tetap penting agar mereka dapat menjalani
proses penuaan secara sehat dan bermakna.
Pendekatan kesehatan otak dalam siklus kehidupan perempuan harus
dilakukan secara holistik dan berkesinambungan. Intervensi gaya hidup seperti
nutrisi seimbang, aktivitas fisik teratur, tidur berkualitas, serta manajemen
stres terbukti berperan penting dalam menjaga plastisitas otak dan kesehatan
mental perempuan (McEwen & Akil, 2020). Tenaga kebidanan memiliki peran
strategis dalam memberikan edukasi, melakukan deteksi dini, serta pendampingan
psikososial di setiap fase kehidupan perempuan. Nutrisi seimbang, aktivitas
fisik teratur, tidur berkualitas, manajemen stres, serta dukungan sosial
merupakan pilar utama dalam menjaga kesehatan otak. Tenaga kebidanan memiliki
peran strategis dalam edukasi, deteksi dini, dan pendampingan psikososial, baik
di fasilitas kesehatan maupun di masyarakat.
Sebagai dosen kebidanan, saya memandang bahwa penguatan konsep
kesehatan otak perlu diintegrasikan dalam pendidikan kebidanan dan praktik
pelayanan. Perempuan dengan kesehatan otak yang baik akan lebih mampu mengambil
keputusan yang sehat, menjalani kehamilan dan persalinan dengan optimal, serta
membangun generasi yang lebih sehat secara fisik dan mental. Dengan demikian,
kesehatan otak perempuan bukan hanya isu individu, melainkan investasi jangka
panjang bagi kualitas keluarga dan bangsa.
Referensi Jurnal :
- Brummelte, S., & Galea, L. A. M. (2016). Postpartum
depression: Etiology, treatment and consequences for maternal care. Hormones
and Behavior, 77, 153–166.
- Gur, R. E., et al. (2012). Sex differences in brain gray and
white matter in healthy young adults. Cerebral Cortex, 22(1), 1–12.
- McEwen, B. S., & Akil, H. (2020). Revisiting the stress
concept: Implications for affective disorders. Journal of Neuroscience,
40(1), 12–21.
- Rubinow, D. R., & Schmidt, P. J. (2019). Sex differences
and the neurobiology of affective disorders. Neuropsychopharmacology,
44(1), 111–128.
- Schiller, C. E., Meltzer-Brody, S., & Rubinow, D. R.
(2015). The role of reproductive hormones in postpartum depression. CNS
Spectrums, 20(1), 48–59.



