Theme Original LiputanSBM v4.3 – © 2026 PT Suara Borneo Membangun

12 Januari 2026

Menjaga Kesehatan Otak Perempuan Sepanjang Siklus Kehidupan Demi Generasi Emas Kalimantan Tengah

Oleh: Bdn. Fitrya Ayu Anggraini, S.ST. M.Keb
Tenaga Pendidik di Jurusan Kebidanan Poltekes Kemenkes Palangkaraya


LIPUTANSBM.COM, PALANGKA RAYA - Dalam praktik pendidikan dan pelayanan kebidanan, kesehatan perempuan masih kerap dipahami secara dominan dari aspek fisik dan reproduksi, sementara kesehatan otak belum mendapat perhatian yang setara. Padahal, berbagai studi neurosains dan kebidanan menunjukkan bahwa otak merupakan pusat kendali utama yang memengaruhi fungsi hormonal, emosi, perilaku, hingga kemampuan perempuan dalam menjalani peran biologis dan sosialnya. Padahal, otak merupakan pusat kendali utama yang memengaruhi fungsi hormonal, emosi, perilaku, serta kemampuan adaptasi perempuan sepanjang siklus kehidupannya. Oleh karena itu, konsep kesehatan otak menjadi fondasi penting dalam upaya meningkatkan kualitas hidup perempuan dan generasi yang akan dilahirkannya.

Perempuan menjalani siklus kehidupan yang unik dan kompleks, mulai dari masa kanak-kanak, remaja, dewasa, kehamilan, persalinan, nifas, menopause, hingga usia lanjut. Literatur ilmiah menunjukkan bahwa setiap fase tersebut melibatkan perubahan struktur dan fungsi otak yang signifikan, terutama akibat fluktuasi hormon reproduksi seperti estrogen dan progesteron yang berperan penting dalam regulasi emosi dan fungsi kognitif (Rubinow & Schmidt, 2019). Setiap fase tersebut ditandai dengan perubahan biologis dan psikososial yang berdampak langsung pada fungsi dan kesehatan otak. Dari sudut pandang kebidanan, pemahaman terhadap dinamika kesehatan otak ini menjadi kunci dalam memberikan asuhan yang komprehensif dan berkelanjutan.

Pada masa kanak-kanak dan remaja, otak perempuan berada dalam fase perkembangan yang sangat pesat. Penelitian neuroimaging menunjukkan bahwa pembentukan koneksi saraf dan pematangan korteks prefrontal yang berperan dalam pengambilan keputusan dan pengendalian emosi berlangsung hingga usia dewasa awal (Gur et al., 2012). Stres berkepanjangan pada fase ini terbukti meningkatkan risiko gangguan kecemasan, depresi, dan gangguan tidur pada remaja putri, yang dapat berdampak jangka panjang terhadap kesehatan reproduksi dan mental. Pembentukan koneksi saraf, kemampuan regulasi emosi, serta fungsi kognitif sangat dipengaruhi oleh nutrisi, kualitas pengasuhan, rasa aman, dan lingkungan sosial. Remaja putri yang mengalami stres berkepanjangan, tekanan akademik, atau kurang dukungan emosional berisiko mengalami gangguan kecemasan, depresi, dan gangguan tidur. Dalam perspektif kebidanan, kondisi ini perlu dipahami sebagai bagian dari kesehatan otak yang akan memengaruhi kesiapan remaja putri memasuki fase dewasa dan reproduksi.

Memasuki usia dewasa, perempuan dihadapkan pada berbagai peran dan tuntutan kehidupan. Beban mental (mental load) yang tinggi dan stres kronis diketahui mengaktivasi sumbu hipotalamus–pituitari–adrenal (HPA axis) secara berlebihan. McEwen dan Akil (2020) menegaskan bahwa aktivasi stres jangka panjang dapat mengganggu keseimbangan neuroendokrin, menurunkan konsentrasi, serta memicu keluhan psikosomatik yang sering dijumpai dalam praktik kebidanan sehari-hari.

Dalam pengalaman mengajar dan mendampingi mahasiswa kebidanan, termasuk dalam konteks masyarakat Kalimantan Tengah, saya kerap menjumpai perempuan usia produktif yang datang dengan keluhan fisik berulang seperti sulit tidur, nyeri kepala, atau kelelahan berkepanjangan tanpa temuan klinis yang jelas. Setelah ditelusuri lebih lanjut, keluhan tersebut sering berkaitan dengan stres psikologis, beban peran, dan kurangnya ruang pemulihan emosional. Kondisi ini mencerminkan bagaimana kesehatan otak perempuan masih kerap terabaikan dan baru mendapat perhatian ketika muncul keluhan fisik yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Beban mental (mental load) yang tinggi, tuntutan pekerjaan, serta tanggung jawab keluarga sering kali membuat kesehatan otak terabaikan. Stres kronis pada fase ini dapat mengganggu keseimbangan hormon melalui aktivasi sumbu hipotalamus pituitari adrenal (HPA axis), menurunkan konsentrasi, serta memicu keluhan psikosomatik. Dalam proses pembelajaran kebidanan, hal ini menjadi pengingat bahwa keluhan fisik perempuan sering kali memiliki akar pada kondisi kesehatan otak dan psikologis.

Kehamilan dan masa nifas merupakan fase yang sangat krusial bagi kesehatan otak perempuan. Perubahan hormon yang drastis, terutama estrogen dan kortisol, berdampak langsung pada fungsi memori dan emosi. Studi menunjukkan bahwa sekitar 10–20% perempuan mengalami depresi postpartum, kondisi yang berkaitan erat dengan perubahan neurobiologis dan stres psikososial (Brummelte & Galea, 2016; Schiller et al., 2015).

Dalam konteks pelayanan kesehatan di Kalimantan Tengah, ibu hamil dan nifas sering menghadapi tantangan berupa keterbatasan dukungan psikososial dan jarak akses layanan kesehatan. Pada kondisi ini, bidan kerap menjadi tenaga kesehatan terdepan yang paling dekat dengan kehidupan perempuan. Posisi strategis ini memungkinkan bidan untuk tidak hanya memantau kondisi fisik ibu, tetapi juga mengenali tanda-tanda awal gangguan kesehatan otak, seperti kecemasan berlebihan, gangguan tidur, dan kelelahan emosional, sehingga intervensi dapat dilakukan lebih dini. Perubahan hormonal yang signifikan, kurang tidur, serta adaptasi peran sebagai ibu dapat memengaruhi fungsi kognitif dan emosional. Fenomena seperti pregnancy brain atau mommy brain sering dianggap wajar, namun tetap memerlukan perhatian. Tanpa dukungan yang memadai, kondisi ini dapat berkembang menjadi kecemasan kehamilan atau depresi postpartum. Kesehatan otak ibu pada fase ini sangat menentukan keberhasilan menyusui, pembentukan ikatan ibu–anak, serta tumbuh kembang bayi.

Pada masa menopause dan usia lanjut, penurunan hormon estrogen berdampak nyata pada fungsi memori, suasana hati, dan kecepatan berpikir. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa estrogen memiliki efek protektif terhadap neuron, sehingga penurunannya berkontribusi pada meningkatnya risiko gangguan kognitif dan penurunan kualitas hidup perempuan lanjut usia (Rubinow & Schmidt, 2019). Risiko gangguan kognitif dan penurunan kualitas hidup meningkat apabila kesehatan otak tidak dijaga sejak dini. Dari sudut pandang kebidanan komunitas, pendampingan perempuan pada fase ini tetap penting agar mereka dapat menjalani proses penuaan secara sehat dan bermakna.

Pendekatan kesehatan otak dalam siklus kehidupan perempuan harus dilakukan secara holistik dan berkesinambungan. Intervensi gaya hidup seperti nutrisi seimbang, aktivitas fisik teratur, tidur berkualitas, serta manajemen stres terbukti berperan penting dalam menjaga plastisitas otak dan kesehatan mental perempuan (McEwen & Akil, 2020). Tenaga kebidanan memiliki peran strategis dalam memberikan edukasi, melakukan deteksi dini, serta pendampingan psikososial di setiap fase kehidupan perempuan. Nutrisi seimbang, aktivitas fisik teratur, tidur berkualitas, manajemen stres, serta dukungan sosial merupakan pilar utama dalam menjaga kesehatan otak. Tenaga kebidanan memiliki peran strategis dalam edukasi, deteksi dini, dan pendampingan psikososial, baik di fasilitas kesehatan maupun di masyarakat.

Sebagai dosen kebidanan, saya memandang bahwa penguatan konsep kesehatan otak perlu diintegrasikan dalam pendidikan kebidanan dan praktik pelayanan. Perempuan dengan kesehatan otak yang baik akan lebih mampu mengambil keputusan yang sehat, menjalani kehamilan dan persalinan dengan optimal, serta membangun generasi yang lebih sehat secara fisik dan mental. Dengan demikian, kesehatan otak perempuan bukan hanya isu individu, melainkan investasi jangka panjang bagi kualitas keluarga dan bangsa.

 Referensi Jurnal :

  1. Brummelte, S., & Galea, L. A. M. (2016). Postpartum depression: Etiology, treatment and consequences for maternal care. Hormones and Behavior, 77, 153–166.
  2. Gur, R. E., et al. (2012). Sex differences in brain gray and white matter in healthy young adults. Cerebral Cortex, 22(1), 1–12.
  3. McEwen, B. S., & Akil, H. (2020). Revisiting the stress concept: Implications for affective disorders. Journal of Neuroscience, 40(1), 12–21.
  4. Rubinow, D. R., & Schmidt, P. J. (2019). Sex differences and the neurobiology of affective disorders. Neuropsychopharmacology, 44(1), 111–128.
  5. Schiller, C. E., Meltzer-Brody, S., & Rubinow, D. R. (2015). The role of reproductive hormones in postpartum depression. CNS Spectrums, 20(1), 48–59.

 

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda
Memuatkan Berita Terkini...
© 2026 PT Suara Borneo Membangun – LiputanSBM. Tema website dilindungi UU Hak Cipta RI No.28 Tahun 2014. SHA-256: 6c814ae5013aef00cfbbab88b48b81ec936685a856f9b7472d928466e27ce533