LPG 3 Kg Menghilang di Palangka Raya, Warga Resah, Pasokan Mandek atau Salah Sasaran?

Rizal
0

Palangka Raya LiputanSBM - Selama hampir sepekan terakhir, masyarakat di Kota Palangka Raya dibuat resah oleh semakin sulitnya memperoleh tabung LPG bersubsidi ukuran 3 kilogram. Di sejumlah pangkalan dan agen resmi, tabung berwarna hijau yang menjadi kebutuhan utama rumah tangga berpenghasilan rendah itu nyaris tidak lagi tersedia. Rabu, 01/07/2026.


Sejak pagi, tidak sedikit warga yang rela mendatangi satu pangkalan ke pangkalan lainnya dengan harapan masih ada sisa stok. Namun, harapan itu berulang kali pupus. Mereka hanya mendapatkan jawaban yang sama, yakni persediaan telah habis dan pasokan baru belum juga datang.


Baca Juga:

Kelangkaan ini mulai memunculkan berbagai pertanyaan di tengah masyarakat. Apakah distribusi LPG 3 kilogram dari Pertamina memang sedang mengalami kendala sehingga pasokan ke daerah berkurang? Ataukah sebenarnya stok tersedia, tetapi penyalurannya tidak tepat sasaran sehingga gas bersubsidi lebih banyak digunakan oleh pelaku usaha yang seharusnya menggunakan LPG nonsubsidi?


Salah satu pangkalan jalan S Parman saat ditanyakan apakah ada tersedia gas LPG 3 Kg, dikatakannya bahwa sudah seminggu ini tidak ada pasokan.


Seorang masyarakat saat diwawancarai awak media juga bingung mau cari gas LPG 3 kg subsidi karena di eceran pun tidak ada lagi 


“Saya sudah mencari keliling tidak ada lagi yang menjual gas LPG 3 kg” Ucap warga tersebut Rabu 01/07/2026.


Pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul bukan tanpa alasan. Di lapangan, masih kerap dijumpai dugaan penggunaan LPG 3 kilogram oleh rumah makan berskala besar maupun pelaku usaha lain yang berdasarkan ketentuan tidak lagi menjadi sasaran penerima subsidi. Jika praktik seperti itu benar terjadi, maka masyarakat kecil yang menjadi kelompok prioritas berpotensi semakin kesulitan memperoleh haknya.


Beberapa agen yang ditemui penulis mengaku tidak dapat melayani permintaan masyarakat karena stok mereka telah habis. Bahkan, mereka menyebut sudah lebih dari satu minggu tidak menerima pasokan baru dari distributor, sehingga tidak memiliki kepastian kapan LPG bersubsidi kembali tersedia.


Di sisi lain, kondisi ini paling dirasakan oleh masyarakat berpenghasilan rendah. Bagi mereka, LPG 3 kilogram bukan sekadar komoditas, melainkan kebutuhan pokok untuk memasak setiap hari. Ketika pasokan menghilang dari pasaran, sebagian terpaksa membeli dengan harga lebih mahal jika masih ada yang menjual, sementara lainnya memilih menunggu tanpa kepastian.


Situasi tersebut tentu memerlukan perhatian serius dari pemerintah daerah bersama Pertamina dan instansi terkait. Transparansi mengenai kondisi pasokan, distribusi, serta pengawasan terhadap penggunaan LPG bersubsidi menjadi hal yang sangat penting agar keresahan masyarakat tidak terus berkembang menjadi spekulasi.


Masyarakat berharap pemerintah segera memberikan penjelasan resmi mengenai penyebab kelangkaan yang terjadi. Jika memang terdapat gangguan distribusi, informasi tersebut perlu disampaikan secara terbuka beserta langkah-langkah penanganannya. Sebaliknya, apabila ditemukan penyalahgunaan LPG bersubsidi oleh pihak yang tidak berhak, maka penegakan aturan harus dilakukan secara tegas agar subsidi negara benar-benar dinikmati oleh masyarakat yang membutuhkan.


Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, ketersediaan LPG 3 kilogram bukan hanya soal pasokan energi, tetapi juga menyangkut keberlangsungan kehidupan sehari-hari ribuan keluarga. Karena itu, kepastian distribusi dan pengawasan yang efektif menjadi harapan besar masyarakat Palangka Raya agar kelangkaan serupa tidak terus berulang.


Sebagai informasi Dikutip dari beberapa media online lokal pemerintah kota palangka raya melakukan operasi pasar murah namun untuk beberapa daerah salah satunya flamboyan masyarakatnya masih kesulitan mencari gas LPG 3 kg sampai berita ini ditayangkan. 


Walikota Palangka Raya Fairid Naparin pun menegaskan, pemerintah daerah tidak akan tinggal diam apabila terdapat keluhan masyarakat mengenai sulitnya memperoleh gas elpiji subsidi maupun harga jual yang melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) di kisaran harga Rp25 ribu hingga Rp28 ribu untuk di pangkalan.


"Kalau memang nanti ada laporan atau keluhan terkait elpiji yang langka dan harganya mahal, tentu akan kami tindak lanjuti. Nanti saya akan mencari tahu penyebabnya dan bagaimana kondisi sebenarnya di lapangan," ujar Fairid, Selasa (23/6).


Meski demikian, pihaknya mengaku belum menerima laporan resmi dari organisasi perangkat daerah terkait mengenai kelangkaan gas elpiji 3 kilogram tersebut.


Pewarta: Andy Ariyanto 


Posting Komentar

0 Komentar
Posting Komentar (0)
block1/Nasional News
To Top
// Memaksa semua gambar di postingan menggunakan loading='lazy' document.querySelectorAll('.post-body img').forEach(img => { img.setAttribute('loading', 'lazy'); // Mengubah resolusi gambar Blogger ke format WebP otomatis let src = img.getAttribute('src'); if (src.includes('s1600') || src.includes('s640')) { img.setAttribute('src', src.replace(/\/s(1600|640)\//, '/s1200-rw/')); } }); let timeout = null; window.addEventListener('scroll', () => { clearTimeout(timeout); timeout = setTimeout(() => { // Jalankan tracker hanya setelah user berhenti scroll selama 200ms trackUserInterest(); }, 200); }, {passive: true});