![]() |
Wakil Ketua Komisi II DPRD Kalteng, Bambang Irawan. |
LIPUTANSBM, PALANGKA RAYA – Wacana pengembangan sapi perah di Kalimantan Tengah mulai mencuat. Namun, DPRD Provinsi Kalimantan Tengah mengingatkan agar rencana ambisius ini tak berhenti di tengah jalan.
Wakil Ketua Komisi II DPRD Kalteng, Bambang Irawan, menegaskan pentingnya menyiapkan skema hilirisasi sejak awal.
Ia khawatir, tanpa perencanaan menyeluruh, program ini hanya akan menjadi proyek tambal sulam yang merugikan daerah.
“Jangan sampai kita sudah memproduksi susu, tapi tidak memiliki teknologi atau metode sterilisasi, bahkan tidak bisa mengolahnya menjadi produk turunan. Itu akan menjadi masalah besar,” kata Bambang, Rabu, 30 Juli 2025.
Ia menilai, sebelum bicara soal infrastruktur peternakan, pemerintah harus menetapkan tujuan akhir dari produksi susu. Tanpa peta jalan hilirisasi, potensi besar yang dimiliki Kalteng bisa berakhir sia-sia.
“Kalau tidak ada hilirisasi, ya kita rugi. Kita hanya menyediakan lahannya saja, tapi tidak tahu ke mana susu akan dipasarkan,” ujarnya.
Bambang mengingatkan bahwa susu adalah produk sensitif dengan kandungan protein tinggi.
Tanpa penanganan yang tepat, termasuk proses sterilisasi dan distribusi, hasil produksi berisiko terbuang percuma.
Ia juga menyoroti pengalaman serupa di sektor kehutanan. Banyak kayu log diekspor mentah tanpa melalui proses pengolahan, sehingga nilai tambah dan serapan tenaga kerja pun minim.
“Kita hanya mengelola setengah proses saja, seperti kayu log yang dikirim mentah. Nilai tambahnya kecil, dan tenaga kerja yang terserap juga sedikit,” ucapnya.
Menurutnya, kunci keberhasilan program sapi perah terletak pada hilirisasi. Jika pengolahan susu dan produk turunannya dilakukan di dalam wilayah Kalimantan Tengah, dampaknya akan langsung terasa pada perekonomian lokal.
“Kalau hilirisasi berjalan, produk bisa dipasarkan ke mana saja. Ini akan memberikan keuntungan besar bagi daerah,” tegasnya.
Ia pun menekankan pentingnya menyusun perencanaan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir.
“Rencana pengembangan peternakan sapi perah jangan hanya fokus pada produksi, tapi juga harus pikirkan distribusi dan pemasaran. Baru program ini benar-benar memberi manfaat untuk masyarakat Kalimantan Tengah,” tutupnya.
Pewarta : Antonius Sepriyono