Theme Original LiputanSBM v4.3 – © 2026 PT Suara Borneo Membangun

06 January 2026

Jejak Fairid, Membangun Kota Palangka Raya



Oleh: (Rizaldi/Redaktur Pelaksana liputansbm.com)

LIPUTANSBM.COM, Palangka Raya - Antara Estetika Kota dan Realitas Pembangunan Palangka Raya, dikenal luas dengan julukan "Kota Cantik", kini tengah berada dalam fase transformasi yang signifikan dibawah nakhoda Walikota Fairid Naparin. Sebagai ibu kota provinsi terluas di Indonesia, tantangan yang dihadapi kota ini tentu tidak sederhana. 

Mulai dari urusan tata ruang hingga dinamika sosial perkotaan, melalui rekam jejak yang kerap diulas dalam laporan Liputan SBM. Terlihat adanya pola kepemimpinan dengan mencoba mengawinkan visi modernitas sarat semangat kearifan lokal dalam setiap pengambilan kebijakan.

Keberhasilan paling mencolok secara visual adalah penataan kawasan jantung kota, khususnya di sepanjang Jalan Yos Sudarso. Transformasi tempat ini menjadi pusat area kuliner dan ruang terbuka publik. Bukan sekadar proyek mempercantik diri, melainkan strategi jitu menghidupkan ekosistem ekonomi kreatif. Secara temporal, pengerjaan yang konsisten dari tahun ke tahun menunjukkan bahwa pemerintah kota ingin menciptakan sebuah "magnet" baru, agar mampu menggerakkan roda ekonomi masyarakat kecil di tengah hiruk-pikuk modernisasi.

Namun, pembangunan di era Fairid Naparin tidak hanya berpusat pada gemerlap lampu ditengah kota saja. Keberpihakan pada wilayah penyangga dan pinggiran seperti Kelurahan Kereng Bangkirai dan Sabaru menjadi bukti adanya upaya pemerataan aksesibilitas. Melalui peningkatan kualitas jalan lingkungan dan pengalokasian dana kelurahan yang tepat sasaran, pemerintah kota seolah ingin menegaskan bahwa setiap warga memiliki hak sama untuk menikmati infrastruktur yang layak, terlepas dari seberapa jauh tempat tinggal mereka dari Bundaran Besar.

Salah satu poin krusial yang patut mendapat sorotan adalah manajemen mitigasi banjir. Masalah genangan air kerap menghantui warga saat intensitas hujan mulai tinggi, hal ini ditangani dengan pendekatan lebih preventif dan terukur. Fokus pada normalisasi drainase pada titik-titik rawan, seperti kawasan Jalan Temanggung Tilung dan Pasar Besar, dilakukan secara intensif menjelang akhir tahun. Menunjukkan bahwa Fairid memiliki kepekaan terhadap data iklim dan kebutuhan mendesak masyarakat dilapangan.

Selain pembangunan fisik, reformasi birokrasi melalui digitalisasi pelayanan publik juga menjadi catatan prestasi tersendiri. Kehadiran Mal Pelayanan Publik lebih representatif, serta integrasi layanan kependudukan secara daring menunjukkan keinginan untuk memangkas sekat antara pemerintah dan warga. Hal ini sejalan dengan tuntutan zaman, dimana masyarakat urban Palangka Raya membutuhkan kecepatan, transparansi, dan efisiensi dalam mengurus berbagai keperluan administratif mereka sehari-hari.

Namun, di balik akselerasi pembangunan fisik yang memukau, muncul sebuah tantangan krusial mengenai manajemen keberlanjutan pasca-konstruksi. Estetika urban telah dibangun dengan biaya publik besar, ditakutkan sangat rentan terhadap depresiasi fungsi, jika tidak dibarengi dengan sistem pengawasan yang rigid dan berkelanjutan. Pemerintah Kota Palangka Raya perlu mewaspadai fenomena "ruang publik yang teraneksasi" oleh kepentingan privat atau parkir liar, jika dibiarkan akan mendegradasi marwah "Kota Cantik" itu sendiri. Pembangunan bukanlah sekadar seremoni peresmian, melainkan tentang bagaimana menjaga nilai manfaat infrastruktur agar tidak luruh dimakan waktu dan pengabaian tata tertib.

Selanjutnya, pertumbuhan struktur kota yang masif harus segera diimbangi dengan strategi ekologi urban futuristik, terutama dalam tata kelola limbah dan skema mobilitas publik. Seiring meningkatnya intensitas penduduk, model pengelolaan sampah konvensional tidak lagi memadai, berisiko menciptakan bom waktu terhadap lingkungan dimasa depan. Demikian pula dengan ketergantungan pada kendaraan pribadi yang mulai memicu simpul-simpul kemacetan baru; ini adalah sinyal bagi pemerintah kota untuk segera merancang peta jalan transportasi terintegrasi.

Kepemimpinan cerdas adalah kepemimpinan yang mampu mengantisipasi krisis sebelum ia menjadi nyata, dengan memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi kota tidak mengorbankan daya dukung lingkungan dan kenyamanan mobilitas warganya.

Kepemimpinan Fairid Naparin juga diuji dalam hal penguatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) lokal ditengah gempuran investasi luar. Pembangunan fisik yang megah harus diimbangi dengan program pemberdayaan yang mampu membuat milenial dan pelaku UMKM setempat menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Inklusi ekonomi harus menjadi prioritas agar kemajuan infrastruktur tidak hanya menjadi tontonan, tetapi benar-benar menjadi alat bagi masyarakat untuk keluar dari garis kemiskinan dan meningkatkan taraf hidup mereka.

Sebagai penutup, perjalanan Fairid Naparin dalam menata Palangka Raya adalah sebuah proses panjang yang patut diapresiasi namun tetap perlu dikawal dengan kritik konstruktif. Kota ini telah memiliki fondasi kuat untuk menjadi kota jasa modern tanpa kehilangan jati diri sebagai bagian dari Bumi Tambun Bungai. Ujian sesungguhnya bagi seorang pemimpin bukan hanya terletak pada apa yang telah diresmikan hari ini, melainkan pada sejauh mana manfaat pembangunan tersebut dapat dinikmati secara berkelanjutan oleh generasi mendatang.

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda