KALTENG, LIPUTANSBM.COM - Peristiwa Radikalisme karena di salah satu sekolah beberapa waktu lalu masih menyisakan kegelisahan di tengah masyarakat. Dari hasil penelusuran aparat keamanan, terungkap bahwa aksi teror tersebut tidak berdiri sendiri. Jaringan pelaku disebut memiliki keterkaitan lintas daerah, termasuk salah satu Kabupaten, Kalimantan Tengah. Bahkan, dalam pengembangan kasus, dua anak yang terpapar paham tersebut diketahui tercatat berada dalam jaringan yang sama dengan pelaku yakni di dalam grup permainan Roblok
Fakta ini menjadi peringatan serius bahwa ancaman
radikalisme dapat menyasar siapa saja, termasuk generasi muda yang masih duduk
di bangku sekolah. Menyikapi hal tersebut, awak media SBM mencoba menggali
pandangan dunia pendidikan, khususnya di Kota Palangka Raya, terkait upaya
pencegahan paham radikal di lingkungan sekolah.
Kepala Sekolah SMA Negeri 4 Palangka Raya, Sudiro, melalui
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Mariatunnisa, bersama Yulius Benny
selaku Pembina Siswa, menegaskan bahwa pencegahan radikalisme tidak bisa
dibebankan kepada sekolah semata.
Menurut mereka, kolaborasi yang kuat antara pihak sekolah
dan orang tua menjadi kunci utama. Terutama di era digital saat ini, ketika
media sosial menjadi ruang yang sangat dekat dengan kehidupan siswa.
“Pengawasan dan komunikasi antara sekolah dan orang tua
harus berjalan seiring. Media sosial menjadi salah satu pintu masuk berbagai
paham, sehingga aktivitas anak perlu dipantau bersama,” ujar Mariatunnisa.
Senin (12/01/2026)
Di SMA Negeri 4 Palangka Raya, pendidikan karakter menjadi
fondasi utama dalam membentengi siswa dari pengaruh negatif. Sekolah secara
konsisten menanamkan nilai-nilai keimanan, akhlak mulia, semangat gotong
royong, kreativitas, berpikir kritis, menghargai keberagaman, serta kemandirian
kepada para siswa.
Tak hanya itu, pihak sekolah juga meminta siswa untuk
mengikuti akun media sosial resmi sekolah. Langkah ini dilakukan sebagai bagian
dari upaya pemantauan, sekaligus sarana edukasi agar aktivitas siswa di ruang
digital tetap berada dalam koridor positif.
Sementara itu, Yulius Benny mengungkapkan bahwa pihak
sekolah juga secara berkala melakukan inspeksi mendadak (sidak) terhadap
telepon genggam milik siswa. Tujuannya bukan untuk membatasi, melainkan
memastikan bahwa perangkat tersebut digunakan secara sehat dan bertanggung
jawab.
“Kami ingin tahu apa saja yang diakses siswa melalui ponsel
mereka. Ini bagian dari pembinaan, agar sejak dini mereka terhindar dari konten
yang berpotensi merusak pola pikir,” jelasnya.
Upaya-upaya tersebut menjadi gambaran bahwa sekolah tidak
hanya berfungsi sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai
ruang pembentukan karakter dan benteng awal dalam menangkal radikalisme. Dengan
sinergi antara sekolah, orang tua, dan lingkungan sekitar, diharapkan generasi
muda dapat tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, berkarakter, dan cinta damai.
Pewarta: Andy Ariyanto



