Theme Original LiputanSBM v4.3 – © 2026 PT Suara Borneo Membangun

12 Januari 2026

Mencegah Radikalisme Sejak Bangku Sekolah: Kolaborasi Sekolah dan Orang Tua Jadi Kunci



KALTENG, LIPUTANSBM.COM - Peristiwa Radikalisme karena di salah satu sekolah beberapa waktu lalu masih menyisakan kegelisahan di tengah masyarakat. Dari hasil penelusuran aparat keamanan, terungkap bahwa aksi teror tersebut tidak berdiri sendiri. Jaringan pelaku disebut memiliki keterkaitan lintas daerah, termasuk salah satu Kabupaten, Kalimantan Tengah. Bahkan, dalam pengembangan kasus, dua anak yang terpapar paham tersebut diketahui tercatat berada dalam jaringan yang sama dengan pelaku yakni di dalam grup permainan Roblok

Fakta ini menjadi peringatan serius bahwa ancaman radikalisme dapat menyasar siapa saja, termasuk generasi muda yang masih duduk di bangku sekolah. Menyikapi hal tersebut, awak media SBM mencoba menggali pandangan dunia pendidikan, khususnya di Kota Palangka Raya, terkait upaya pencegahan paham radikal di lingkungan sekolah.

Kepala Sekolah SMA Negeri 4 Palangka Raya, Sudiro, melalui Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Mariatunnisa, bersama Yulius Benny selaku Pembina Siswa, menegaskan bahwa pencegahan radikalisme tidak bisa dibebankan kepada sekolah semata.

Menurut mereka, kolaborasi yang kuat antara pihak sekolah dan orang tua menjadi kunci utama. Terutama di era digital saat ini, ketika media sosial menjadi ruang yang sangat dekat dengan kehidupan siswa.

“Pengawasan dan komunikasi antara sekolah dan orang tua harus berjalan seiring. Media sosial menjadi salah satu pintu masuk berbagai paham, sehingga aktivitas anak perlu dipantau bersama,” ujar Mariatunnisa. Senin (12/01/2026)

Di SMA Negeri 4 Palangka Raya, pendidikan karakter menjadi fondasi utama dalam membentengi siswa dari pengaruh negatif. Sekolah secara konsisten menanamkan nilai-nilai keimanan, akhlak mulia, semangat gotong royong, kreativitas, berpikir kritis, menghargai keberagaman, serta kemandirian kepada para siswa.

Tak hanya itu, pihak sekolah juga meminta siswa untuk mengikuti akun media sosial resmi sekolah. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya pemantauan, sekaligus sarana edukasi agar aktivitas siswa di ruang digital tetap berada dalam koridor positif.

Sementara itu, Yulius Benny mengungkapkan bahwa pihak sekolah juga secara berkala melakukan inspeksi mendadak (sidak) terhadap telepon genggam milik siswa. Tujuannya bukan untuk membatasi, melainkan memastikan bahwa perangkat tersebut digunakan secara sehat dan bertanggung jawab.

“Kami ingin tahu apa saja yang diakses siswa melalui ponsel mereka. Ini bagian dari pembinaan, agar sejak dini mereka terhindar dari konten yang berpotensi merusak pola pikir,” jelasnya.

Upaya-upaya tersebut menjadi gambaran bahwa sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter dan benteng awal dalam menangkal radikalisme. Dengan sinergi antara sekolah, orang tua, dan lingkungan sekitar, diharapkan generasi muda dapat tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, berkarakter, dan cinta damai.

Pewarta: Andy Ariyanto

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda
Memuatkan Berita Terkini...
© 2026 PT Suara Borneo Membangun – LiputanSBM. Tema website dilindungi UU Hak Cipta RI No.28 Tahun 2014. SHA-256: 6c814ae5013aef00cfbbab88b48b81ec936685a856f9b7472d928466e27ce533