KALTENG, LIPUTANSBM.COM - Peristiwa Radikaliame di salah satu sekolah
menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan nasional. Tragedi tersebut tidak
hanya mengguncang rasa aman publik, tetapi juga membuka fakta yang lebih
mengkhawatirkan. Hasil penelusuran aparat keamanan mengungkap bahwa aksi itu tidak berdiri sendiri. Jaringan pelaku
diketahui memiliki keterkaitan lintas daerah, termasuk salah satu Kabupaten di
Kalimantan Tengah. Dari pendalaman lebih lanjut, dua anak di daerah tersebut
yang terpapar paham Radikalisme tercatat berada dalam jaringan yang sama dengan
pelaku utama yakni satu Grup dalam game Roblok. Selasa, 14/01/2026.
Fakta ini memunculkan pertanyaan mendasar: sejauh mana
sekolah mampu membentengi peserta didik dari pengaruh negatif, terutama di era
digital yang nyaris tanpa sekat? Gadget, yang di satu sisi menjadi sarana
pembelajaran, di sisi lain juga berpotensi menjadi pintu masuk ideologi
menyimpang dan konten berbahaya jika tidak diawasi secara tepat.
Berangkat dari kegelisahan tersebut, awak media Liputan SBM
mendatangi SMA Negeri 1 Palangka Raya untuk melihat secara langsung bagaimana
satuan pendidikan ini membangun karakter siswa sebagai upaya pencegahan dini
terhadap tindak kejahatan dan penyimpangan perilaku pada anak.
Kepala SMA Negeri 1 Palangka Raya, Drs. Arbusin, menegaskan
bahwa pihak sekolah telah mengambil langkah konkret sejak dua tahun terakhir.
Salah satu kebijakan yang diterapkan adalah pembatasan penggunaan telepon
genggam di lingkungan sekolah.
“Untuk mencegah dan mengantisipasi ketergantungan pada
gadget, kami menyediakan loker khusus untuk menyimpan HP siswa. Selama berada
di sekolah, siswa tidak diperkenankan bermain HP,” ujar Arbusin saat diwawancarai di kantornya senin (13/01).
Kebijakan tersebut bukan semata larangan, melainkan bagian
dari strategi pendidikan karakter yang lebih luas. Menurut Arbusin, sekolah
tidak cukup hanya mentransfer pengetahuan akademik, tetapi juga harus membentuk
fondasi moral dan kpribadian yang kuat pada diri peserta didik.
Untuk itu, SMA Negeri 1 Palangka Raya merancang dan
menerapkan lima program utama pendidikan karakter, yaitu: religius, santun,
disiplin, bersih, dan kerja keras. Kelima nilai ini ditanamkan secara konsisten
dalam kegiatan belajar mengajar maupun aktivitas keseharian siswa di lingkungan
sekolah.
“Karakter yang kuat adalah benteng utama anak-anak kita.
Jika nilai-nilai ini tertanam sejak dini, mereka akan lebih mampu memilah
pengaruh buruk dari luar, termasuk yang datang melalui media digital,”
jelasnya.
Lebih jauh, Arbusin
menekankan pentingnya sinergi lintas sektor dalam upaya pencegahan pelanggaran
hukum oleh siswa. Pihak sekolah secara aktif berkoordinasi dengan Dinas
Pendidikan, Dinas Kesehatan, Kementerian Agama, serta aparat penegak hukum.
Kolaborasi ini dilakukan untuk memastikan pembinaan siswa berjalan menyeluruh,
tidak hanya dari aspek akademik, tetapi juga mental, sosial, dan hukum.
Selain itu, ia juga mengingatkan bahwa dari Kementerian
Pendidikan sendiri telah lama dibentuk Tim Penanggulangan dan Pencegahan
Kekerasan di Sekolah.
Tim ini berfungsi sebagai garda depan dalam mengantisipasi,
menangkal, serta menangani berbagai potensi kekerasan dan pelanggaran hukum
yang melibatkan peserta didik.
“Semua ini dilakukan agar siswa tidak terjerumus pada
perbuatan yang melanggar hukum dan merugikan masa depan mereka sendiri,” tutup
Arbusin.
Di tengah derasnya arus informasi dan tantangan keamanan
yang semakin kompleks, langkah SMA Negeri 1 Palangka Raya menjadi contoh bahwa
sekolah memiliki peran strategis dalam menjaga generasi muda tetap berada di
jalur yang benar. Pendidikan karakter, disiplin penggunaan teknologi, dan
kolaborasi lintas institusi menjadi kunci penting dalam mencegah lahirnya
tragedi serupa di masa depan.
Pewarta: Andy Ariyanto



