Dulu Wartawan Kini Jadi Kepsek | Liputan SBM - Liputan Sbm

29 October 2018

Dulu Wartawan Kini Jadi Kepsek | Liputan SBM

Sukamara - Edy Kasim, S.Ag, saat ini di percaya kan sebagai Kepala Sekolah SMAN 1 Sukamara. Sederetan piala dan piagam penghargaan bentuk prestasi para pelajar, yang tentunya berasal dari pembinaan para guru nya juga termasuk Kepala Sekolah (Kepsek), membuat penuhnya piala dan sertifikat di kaca etalase sekolah, Senin 29/10/2018.

Namun dalam obrolan kali ini wartawan Media SBM bukan ingin menanyakan seberapa banyak prestasi yang diperoleh sekolah melalui berbagai bidang yang jadi unggulan para pelajar.

Yang menjadi titik awal obrolan adalah siapa sosok Kepsek SMAN-1 Sukamara saat ini, saat menempuh sarjana dan awal berada di Sukamara.

Edy Kasim, S.Ag merupakan seorang sarjana strata satu (S-1) lulusan STAIN Palangka Raya tahun 2000, bukannya langsung menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemkan Sukamara dan bukan juga langsung menjadi Kepsek, Namun sebelum menyelesaikan kuliahnya pada tahun 1995 sudah menjadi wartawan pada majalah Fakta di Kota Palangka Raya.

Lulus di tahun 2000, kembali ke Sukamara dan di tahun 2003 menjadi PNS langsung menjadi guru di SMAN-1 Sukamara, di tahun 2013 hingga sekarang masih menjabat Kepala Sekolah.

Walaupun sudah berstatus menjadi PNS Guru di SMAN-1 Sukamara jiwa wartawannya tetap ada dan di tahun 2007 mendirikan koran Sukamara Post cetak dengan terbitan satu bulan sekali.

Posisi Pimpinan Redaksi pun di jabatnya, namun sayang kesibukan sebagai PNS membuat dirinya dan redaksi lain mengubur mimpi koran Sukamara Post menjadi besar seperti koran lainnya, awal tahun 2008 tidak ada lagi koran Sukamara Post di yang maksud.

Edy kasim terus melanjutkan ceritanya, pernah di bulan november 2016 koran Sukamara Post terbit tapi setelah itu kembali menghilang hingga saat ini.

Edy menuturkan sembari mengingat belasan tahun silam dirinya mulai menceritakan, kala itu saya pernah menjalani sebagai seorang pemburu berita atau kuli tinta sebutan lain seorang wartawan.

Untuk urusan mengumpulkan bahan berita, mengolah data hingga jadi berita, bahkan sekaligus sebagai bagian dari mencari iklan dan pemasaran pernah di rasakannya.

Jika waktu bisa kembali ketempo dulu, saya rindu akan mencari berita, walaupun susah-susah gampang, sebab sebagai seorang wartawan wajib hukumnya memiliki kepekaan sosial atas apapun yang terjadi disekitar wartawan itu di tugaskan redaksinya.

Edy Kasim bertutur, profesi seorang wartawan baik tempo dulu bahkan sampai saat ini merupakan pemberi informasi kepada kalayak ramai, tentunya informasi yang di sajikan menjadi berita harus sesuai dengan fakta yang terjadi bukan di buat-buat.

Menjadi seorang wartawan tentunya juga harus siap mental, sebab resiko seorang wartawan bisa saja membelengu dirinya sendiri demi satu berita yang akan di publikasikannya ke para pembaca keesokan harinya.

Maka dari itu saya melihat dan bahkan pernah jadi wartawan janganlah dianggap remeh profesi wartawan, sebab satu daerah baik sisi pembangunan, kejadian sosial  di daerah kita ini akan diketahui oleh orang di luar sana dari tulisan sang wartawan, itulah sejatinya seorang wartawan di kenal karena tulisannya.

Jadi wartawan bukan seperti di kantor dengan jam kerja yang pasti. Sebagai wartawan akan dituntut selalu siap dan siaga. Kapanpun, dimanapun, apapun yang wartawan lakukan, bagaimana perasaan wartawan, semua itu harus ditinggalkan demi mendapat berita eksklusif dari tempat kejadian langsung.

Wartawan itu bekerja pada industri yang sifatnya menuntut. Menuntut waktu, kecepatan dan pastinya tenaga.

Wartawan juga jika di Kota besar jarang menemukan yang namanya akhir pekan, bagi seorang wartawan, akhir pekan bisa jadi bukanlah sebuah akhir pekan.

Wartawan harus selalu siaga dan siap meliput bahkan di akhir pekan. Walau kelihatannya hal ini melelahkan, tapi wartawan yang sudah terbiasa dengan beban tugasnya, pasti justru senang harus terus bekerja. Bahkan di akhir pekan sekalipun.

Edy Kasim, sangat berharap kepada kawan kawan yang saat ini berprofesi sebagai wartawan baik media cetak, elektronik dan online untuk tetap menjunjung tinggi kode etik jurnalistik.(eko/red)

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda